JAKARTA, LINISIAR.ID – Ribuan penyandang disabilitas tunarungu di Indonesia berpeluang lebih mudah mengakses pembelajaran Al-Qur’an setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar Training of Trainer (ToT) Al-Qur’an Isyarat gelombang kedua pada Bulan Suci Ramadan 2026.
Program ini ditujukan untuk memperluas akses literasi keagamaan bagi 2 hingga 4,5 juta warga tunarungu di Tanah Air.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta tersebut digelar melalui Masjid Baitut Tholibin dengan tajuk “Menguatkan Ekosistem Pendidikan Inklusif Berbasis Masjid menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Kemendikdasmen dalam menghadirkan Pendidikan Bermutu untuk Semua melalui penguatan praktik pembelajaran inklusif.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, secara langsung membuka kegiatan pada Selasa (3/3). Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki fungsi universal yang melintasi batas fisik, suku, maupun kemampuan komunikasi.
Karena itu, penyandang disabilitas tunarungu memiliki hak teologis dan konstitusional yang sama dalam mengakses sumber ajaran agama, termasuk melalui pembelajaran bahasa isyarat Al-Qur’an.
Fajar juga menekankan bahwa komunikasi dengan bahasa isyarat memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Bahkan, pengakuan terhadap bahasa isyarat dalam hukum Islam di Indonesia telah tercantum sejak tahun 1991 melalui Kompilasi Hukum Islam (KHI).
Ia berharap pelatihan ini mampu melahirkan lebih banyak tenaga pengajar kompeten yang dapat menjembatani literasi Al-Qur’an bagi jutaan warga tunarungu.
Selain itu, ia ingin menghapus stigma bahwa bahasa isyarat hanya milik komunitas tertentu, melainkan bahasa inklusif yang perlu dipelajari agar kaidah Al-Qur’an dapat diakses semua kalangan tanpa terkecuali.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Vokasi PKPLK), Tatang Muttaqin, menyatakan bahwa Kemendikdasmen menghadirkan pelatihan ini sebagai wujud nyata penyediaan akses pendidikan agama yang setara dan bebas diskriminasi bagi pendidik serta peserta didik penyandang disabilitas tunarungu.
Menurut Tatang, pendidikan merupakan hak asasi yang melekat pada setiap individu tanpa memandang kondisi fisik. Ia menilai kebijakan pendidikan saat ini harus menitikberatkan pada penghapusan sekat diskriminasi, khususnya dalam praktik pembelajaran agama, dengan berlandaskan nilai kemanusiaan dan keagamaan.
Pelatihan ini dirancang dengan tiga tujuan utama. Pertama, meningkatkan kompetensi para pelatih melalui penguatan keterampilan bahasa isyarat.
Kedua, memperluas akses agar penyandang disabilitas di berbagai wilayah Indonesia dapat membaca dan mengkaji Al-Qur’an.
Ketiga, membangun ekosistem dengan menyinergikan pesan-pesan Al-Qur’an bersama kemajuan sains dan teknologi demi kemaslahatan bersama.
Tatang berharap program tersebut mampu mencetak pengajar Al-Qur’an yang piawai berbahasa isyarat dan siap mengimplementasikannya di satuan pendidikan khusus.
Ia juga mendorong peserta didik disabilitas untuk menjadi agen perubahan dengan memproduksi konten kreatif berbasis bahasa isyarat.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan di Daerah 3T, Rita Pranawati, menutup Training of Trainer (ToT) Al-Quran Bahasa Isyarat gelombang kedua Tahun 2026 pada Rabu (4/3).
Ia menegaskan bahwa setiap anak, dalam kondisi apa pun, berhak memperoleh pendidikan berkualitas, termasuk dalam pembelajaran agama.
Rita menyampaikan bahwa pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu`ti, menekankan pentingnya menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua di Indonesia.
Ia menilai pelatihan ini menjadi langkah strategis agar teman-teman Tuli dapat mengakses pembelajaran Al-Qur’an secara setara.
Berdasarkan data Institut Ilmu Al-Qur’an, sekitar 65 persen hingga 75 persen umat Muslim di Indonesia belum dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 50 persen umat Muslim di Indonesia belum bisa membaca Al-Qur’an.
Rita mengapresiasi semangat peserta dan pelatih yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia berharap pelatihan Al-Qur’an Bahasa Isyarat terus diperluas ke berbagai daerah di Indonesia sehingga semakin banyak teman-teman Tuli memperoleh kesempatan belajar Al-Qur’an secara inklusif. (*)












