Berita  

Anak Tukang Genting Akhirnya Bisa Bekerja di Korea Berkat Program Kebekerjaan Luar Negeri Lulusan Vokasi

Pelepasan lulusan vokasi program bekerja luar negeri Kemendikdasmen di Surabaya
Ribuan lulusan SMK dan LKP mengikuti pelepasan program kebekerjaan luar negeri yang digelar Kemendikdasmen di Islamic Center Surabaya.
Bagikan

SURABAYA, LINISIAR.ID — Program kebekerjaan luar negeri yang dirintis Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka peluang bagi lulusan vokasi untuk bekerja di luar negeri.

Salah satu peserta program tersebut adalah Muhammad Ogya As Syifa yang bersiap berangkat bekerja ke Korea Selatan.

Ogya merupakan alumnus SMKN 1 Tulungagung, Jawa Timur, dan menjadi satu dari 3.000 lulusan SMK yang akan bekerja di luar negeri melalui program kebekerjaan luar negeri.

“Kalau Korea itu gajinya besar. Jadi, saya bisa mempersingkat waktu untuk mengumpulkan uang untuk mengembangkan usaha di kampung, beli tanah, dan membahagiakan orang tua,” kata Ogya saat ditemui pada acara Pelepasan 3.000 Lulusan SMK dan 600 Lulusan LKP Bekerja di Luar Negeri di Islamic Center Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5).

Ogya mengaku tidak berencana menetap lama di Korea Selatan karena ingin kembali mengembangkan usaha genting milik keluarganya di Desa Ngranti, Boyolangu, Tulungagung.

Daerah asal Ogya dikenal sebagai sentra industri genting dan usaha tersebut telah diwariskan keluarganya secara turun-temurun.

“Dulu sebenarnya usaha bata, tapi ndak nutup, kemudian sekarang ganti usaha genting. Makanya, saya ingin bekerja ke Korea supaya bisa membantu ekonomi keluarga serta mengembangkan usaha itu,” ujar Ogya.

Ia juga berharap dapat mempelajari teknologi dan budaya kerja di Korea Selatan untuk diterapkan pada usaha keluarganya di kampung halaman.

“Saya dari keluarga sederhana. Saya ingin usaha genting orang tua saja bisa berkembang maju, menyerap banyak tenaga kerja sehingga bisa membawa manfaat bagi banyak orang di sini,” Ogya menambahkan.

Keinginan mengumpulkan modal usaha juga dimiliki Taufik Hidayat Febrian yang akan berangkat bekerja ke Jepang pada Juli mendatang.

Taufik dijadwalkan bekerja di perusahaan otomotif di Kota Kobe, Jepang.

Ia berasal dari keluarga petani penggarap dan sempat merantau sendiri ke Malang demi melanjutkan pendidikan di SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang.

Sekolah tersebut memberikan fasilitas asrama dan biaya pendidikan gratis bagi Taufik.

“Kalau untuk alasan kenapa Jepang, tentu karena gajinya menjanjikan, aturan hukum tenaga kerjanya sangat baik. Di samping itu, ada semacam keterjaminan keamanan, tertib, dan menurut pengalaman kakak-kakak kelas sebelumnya, sesuai antara apa yang diberikan dengan yang dijanjikan dalam kontrak kerja ,” terang Taufik.

Taufik berencana bekerja di Jepang selama 10 tahun sebelum kembali ke Indonesia untuk membangun usaha sendiri.

“Mau buka usaha sendiri. Jadi pengusaha sukses. Dagang pokoknya biar sukses, biar orang tua bangga dan keluarga kami tidak diremehkan,” ujar Taufik.

Sementara itu, Kurniawanto memiliki cita-cita membangun panti jompo setelah memperoleh pengalaman kerja di Jepang.

“Jadi, cari modal dan pengalaman dulu di Jepang, kemudian kembali ke Indonesia bangun panti jompo. Itu impian saya karkena kan saya kerja di bidang caregiver,” ujar Kurniawanto.

Berbeda dengan peserta lainnya, Lovely Junero Berneza Lasut justru ingin menetap di Jepang bersama keluarganya.

“Inginnya bisa bekerja sambil kuliah di Jepang, kemudian menikah dengan orang Jepang dan bawa kedua orang tua untuk tinggal di Jepang,” kata Junero.

Junero mengaku telah bercita-cita bekerja di Jepang sejak duduk di bangku SMP sehingga ia mulai mempelajari bahasa Jepang sejak dini.

Ia memilih melanjutkan pendidikan di SMKN 1 Buduran karena banyak alumninya bekerja di luar negeri.

“Saya masuk SMKN 1 Buduran karena sekolah ini memang alumninya banyak yang bekerja ke luar negeri. Kebetulan sekali ada program kebekerjaan luar negeri ini, jadi rasanya seperti mimpi yang terwujud,” Junero menambahkan.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin mengatakan bekerja di luar negeri bukan hanya sekadar mencari penghasilan, tetapi juga belajar hidup mandiri.

Ia menekankan pentingnya kedisiplinan dan kompetensi bagi para lulusan yang akan bekerja di luar negeri.

“Ke mana pun kalian pergi disiplin, tunjukkan kompetensi kalian serta bawa dan jaga nama baik bangsa karena sesungguhnya kalian tidak hanya bekerja, tetapi juga duta bangsa,” kata Dirjen Tatang.

```

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *