Tsunami Hoaks di WhatsApp, Otoritas Pemilu Tak Mampu Mengontrol

Linisiar.ID – Aplikasi chatting WhatsApp menjadi media untuk kampanye politik di Brasil. Hal ini dikhawatirkan akan membuat perpecahan di negara tersebut.

Padahal, sebelumnya Facebook sebagai induk perusahaan WhatsApp tengah berupaya membersihkan platformnya dari berbagai berita misinformasi, fake news atau berita bohong, dan hoaks.

Namun, menjelang pemilu presiden pada 28 Oktober mendatang, giliran WhatsApp yang dibanjiri dengan fake news hingga teori konspirasi.

Sebagaimana dikutip Reuters, Minggu (21/10/2018), salah satu calon presiden Brasil Fernando Haddad menuding kubu pesaingnya, Jair Bolsonaro, telah membanjiri WhatsApp dan medsos dengan sederetan fake news yang bikin pemilih resah. Tentu hal ini dibantah oleh kubu Jair Bolsonaro.

Di Brasil pengguna WhatsApp lebih dari 120 juta. Sementara, jumlah penduduk di sana mencapai 210 juta jiwa. Bisa dikatakan, di negar itu lebih dari separuh penduduk menggunakan akun WhatsApp untuk berkomunikasi.

Makanya, maraknya fake news dan hoaks di platform tersebut jadi hal yang meresahkan.

Pada putaran pertama pemilu, 7 Oktober lalu, media sosial begitu berperan dalam menentukan suara.

Pasalnya, bagi Bolsonaro yang memiliki sedikit akses ke kampanye dan iklan TV, media sosial jadi jawaban untuk membantunya memenangkan 46 persen suara.

Perusahaan polling Datafolha menemukan, dua pertiga dari pemilih Brasil menggunakan WhatsApp.

Pendukung Bolsonaro cenderung lebih mengikuti berita politik di WhatsApp dengan persentase 61 persen.

Sementara pendukung Haddad yang mengikuti berita politik lewat WhatsApp hanya 38 persen.

Perlu diketahui, di WhatsApp, ratusan orang bisa masuk dalam grup obrolan yang terenkripsi. Di dalam grup, mereka bisa saling bertukar informasi, entah itu teks, foto, hingga video.

Sayangnya, otoritas pemilu Brasil tak bisa mengontrol jenis kampanye di dalam obrolan WhatsApp yang terenkripsi.

Fake news, foto yang dimanupulasi, video editan, dan hoaks bisa jadi amunisi kampanye. Mereka menjadi viral di platform tanpa adanya upaya untuk memantau kebenaran sumber berita.

Bahkan, dari berita palsu yang beredar, banyak yang menggambarkan Haddad sebagai seorang komunis dan berpotensi mengubah Brasil sebagai negara komunis seperti Kuba.

Ada juga yang menyebarkan isu, jika Haddad menang, akan lebih banyak anak-anak yang mengarah ke homoseksual, hingga berbagai informasi palsu lainnya.

Di sisi lain, ada juga yang menyebarkan konspirasi bahwa Bolsonaro telah melakukan tindak penikaman fatal beberapa waktu lalu.

Pihak WhatsApp sendiri telah mencoba mencegah adanya tsunami fake news dengan membatasi berapa kali pesan bisa dibagikan ke pihak lain.

Perusahaan juga membuat iklan di publik tentang cara melihat berita palsu, hingga memblokir ratusan ribu akun selama kampanye.

Bahkan, WhatsApp juga menggunakan teknologi untuk menghentikan bot.

Menurut otoritas Brasil, cara perusahaan menggunakan nomor telepon di WhatsApp untuk marketing telah menyalahi aturan privasi data di Brasil. Demikian dituturkan oleh seorang profesor bidang teknologi di Universitas Espirito Santo.

Hakim dan anggota parlemen Brasil telah berulang kali mencoba merambah privasi yang ditawarkan WhatsApp.

Hal ini mungkin membuat pihak Facebook cukup pusing. Namun, peredaran fake news masih juga berlangsung dan meresahkan.