Jumat, September 17, 2021

Proteksi Diri dan Keluarga dari Paparan Ujaran Kebencian di Ruang Digital  

Populer

BOLAANG MONGONDOW, Linisiar.id – Sebanyak 869 peserta antusias mengikuti Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo.

Kegiatan ini dilaksanakan secara virtual pada 10 September 2021 di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, dengan membahas tema “Mari Berbahasa yang Benar dan Beretika di Ruang Digital”. Adapun kolaborasi ketiga lembaga tersebut dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi.

Empat orang narasumber tampil dalam seminar ini, yaitu musisi dan Creative Director Braga Indie Project, Vicky Mokoagow; Koordinator Komite Pemilih Indonesia, Jeirry Sumampow; dosen Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon, Pdt Angie Wuysang; serta aktivis kebhinekaan, Aan Anshori.

Sedangkan moderator yaitu Febrina Stevani selaku Communication Consultant. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 orang peserta.

Acara dibuka dengan video sambutan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Selanjutnya, Vicky Mokoagow sebagai pemateri pertama membawakan tema “Digital Skill and Digital Online”.

Menurut dia, di era digital, masyarakat harus siap dan sigap dalam menghadapi perkembangan dunia. Fungsi internet dan gawai yang bertujuan untuk memudahkan komunikasi dan pekerjaan juga perlu dipahami warganet. Kemudian, lakukan filter informasi yang beredar di internet sekaligus optimalkan perangkatnya.

“Asah kemampuan dengan belajar dan belajar, lalu lakukan eksperimen sambil melihat tutorial yang ada di internet,” imbuh Vicky.

Selanjutnya, Jeirry Sumampow membawakan tema “Hate Speech, Identifikasi Konten dan Regulasi yang Berlaku”. Ia mengatakan, ujaran kebencian merupakan komunikasi dalam bentuk provokasi, hasutan, atau hinaan kepada individu atau suatu kelompok.

Misalnya, pesan kebencian ke ras atau etnis tertentu, seruan permusuhan, serta hasutan untuk tindakan teroris dan genosida. Agar terhindar dari hal negatif tersebut, warganet harus bijak dalam menggunakan internet.

“Kenalilah ciri-ciri berita bohong atau hoaks serta ujaran kebencian,” tutur dia.

Pemateri ketiga, Angie Wuysang, memaparkan materi bertema “Memahami Batasan Kebebasan Berekspresi”. Menurut dia, perkembangan dunia digital membawa dampak negatif berupa lunturnya rasa malu seseorang.

Contohnya, ketika ke luar rumah, warganet tentu akan malu jika mengenakan pakaian yang minim, namun ketika berswafoto atau membuat konten, justru sebaliknya. Padahal, foto atau video tersebut dapat diakses oleh semua orang. “Kita harus memperlakukan dunia digital sebagaimana di dunia nyata,” pesannya.

Narasumber terakhir, Aan Anshori, menyampaikan paparan berjudul “Aman dan Nyaman di Internet, Mungkinkah?”. Ia mengatakan, ketika berselancar di internet ataupun mengakses akun media sosialnya, sedikitnya ada delapan jejak digital yang tercipta, antara lain IP address, e-mail history, hingga potensi tangkapan layar pengguna lain.

Hal tersebut akan berdampak positif jika warganet menggunakan internet secara positif, dan berlaku juga sebaliknya.

“Sekali kita masuk ke internet, jangan berharap untuk 100% mendapatkan rasa aman, tidak akan bisa,” jelas dia.

Selanjutnya, Febrina Stevani sebagai moderator membuka sesi tanya jawab yang disambut antusias dengan beragam pertanyaan dari para peserta. Salah satunya adalah Setiawan yang bertanya tentang fenomena ujaran kebencian di media sosial yang mudah diakses oleh anak-anak.

Menanggapi hal tersebut, Jeirry Sumampow mengatakan bahwa orang tua perlu mengatur, memproteksi, dan mengawasi anak-anaknya dalam penggunaan internet dan media sosial, agar mereka memahami dan mampu membedakan hal yang positif dan negatif di dunia digital.

Program Literasi Digital ini mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Dalam webinar di Bolaang Mongondow tersebut, panitia memberikan uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

 

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

IKLANspot_img

Berita Terbaru