Jumat, September 17, 2021

Peran Guru Bisa Tergeser Jika Tak Melek Teknologi

Populer

POSO, Linisiar.id – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 1 September 2021 di Poso, Sulawesi Tengah. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema saat ini adalah “Menjadi Pendidik yang Cerdas dan Cakap Digital”. Kegiatan yang dihadiri oleh 1.380 peserta ini merupakan kegiatan kerjasama pihak penyelenggara dengan salah satu Universitas yang terletak di Kabupaten Poso yaitu Universitas Sintuwu Maroso (UNSIMAR).

Empat orang narasumber tampil dalam seminar ini. Masing-masing yakni, Ketua Umum Persatuan Guru RI, Prof Dr Unifah Rosyidi M.Pd; Rektor Universitas Sintuwu Maroso (UNSIMAR), Dr Suwardi Pantih S.Sos M.M; Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Poso, Drs George V.Y Tumonggi M.Si; serta Founder Tana Poso Digital Media & Edupreneur, Gunawan Primasatya. Sedangkan moderator yaitu Debby Glenn Firmansyah. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang. Dalam webinar kali ini, penyelenggara bekerja sama dengan Kampus UNSIMAR.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden.

Materi pertama dibawakan oleh Prof Unifah Rosyidi yang menyampaikan tema “Tantangan Pendidik dalam Literasi Digital”. Menurut dia, sejumlah persoalan yang ditemui selama penerapan pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19, antara lain infrastruktur pendidikan daring yang terbatas; efektivitas belajar masih rendah karena kurangnya literasi, baik guru maupun siswa; serta belum adanya kurikulum yang dipersiapkan khusus. Oleh sebab itu, perlu dilakukan langkah strategis agar tetap mempertahankan mutu kualitas pendidikan, misalnya dengan segera mempersiapkan guru dan peserta didik dalam melakukan model berbasis blended learning atau campuran pembelajaran luring dan daring. “Posisi guru tidak akan tergantikan dengan teknologi, siswa tetap membutuhkan guru yang hangat atau yang menghargai. Tetapi, guru yang tidak belajar teknologi justru akan pertama kali bisa tergantikan,” tuturnya.

Selanjutnya, George V.Y Tumonggi menyampaikan paparan berjudul “Literasi Digital untuk Orang Tua, Internet yang Cocok dan Aman untuk Anak”. Ia mengatakan, di masa pandemi, pembelajaran lewat dunia digital menjadi prioritas karena dapat mengurangi interaksi fisik demi menjaga keamanan. Beberapa langkah aman penggunaan internet bagi anak, di antaranya penegasan gawai sebagai hak pakai, bukan hak milik; buat batasan waktu pemakaian; pantau penggunaannya, serta perbanyak waktu berdiskusi antara anak dan orang tua. “Kami Pemkab Poso juga telah menetapkan kebijakan untuk persiapan pelaksanaan pembelajaran tatap muka tahun 2021-2022,” ujar dia.

Pemateri ketiga, Gunawan Primasatya, memaparkan materi bertema “Peran Komunitas Akademik dalam Pendidikan di Era Digital”. Menurut dia, tenaga pendidik perlu mencari cara agar siswa tidak bosan dalam pembelajaran daring dan menarik minat dalam memahami materi yang disampaikan. Misalnya, dengan memvisualisasikan struktur materi yang akan diajarkan. Adapun aplikasi atau laman yang dapat dimanfaatkan untuk membuat konten, antara lain Canva, Google Slide, Power Point, Wepik.com, designbold.com, Snappa.com, serta Stencil.

Adapun Suwardi Pantih, sebagai narasumber terakhir, menyampaikan paparan berjudul “Rekam Jejak Digital di Dunia Pendidikan”. Ia mengatakan, jejak digital yang ditinggalkan warganet di dunia maya sejatinya tidak bisa dihapuskan. Meskipun penyedia platform sudah menghapus konten yang dibagikan, namun mungkin saja ada pihak yang tidak bertanggung jawab yang menangkap layar konten tersebut. Oleh sebab itu, warganet mesti bijak dan berhati-hati dalam berpendapat atau membagikan konten di media sosial. “Pengguna bisa menuliskan permohonan maaf jika ada konten tidak baik yang sudah terlanjur dibagikan,” jelas dia.

Setelah sesi pemaparan materi, moderator melanjutkan kegiatan dengan sesi tanya jawab yang disambut beragam pertanyaan menarik dari para peserta. Panitia memberikan uang elektronik senilai Rp100.000 bagi 40 penanya terpilih. Webinar literasi digital ini mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta.

Salah seorang peserta, Nur Afifa di Poso, bertanya tentang strategi yang tepat untuk membangun kecakapan digital bagi calon pendidik. Prof Unifah mengatakan, calon pendidik harus siap untuk menambah wawasannya sekaligus melatih diri dalam mengikuti perkembangan teknologi digital.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

IKLANspot_img

Berita Terbaru