MAKASSAR, LINISIAR.ID – Sebanyak 16 delegasi negara termasuk 11 negara ASEAN, turut andil dalam forum Tingkat Tinggi ASEAN tentang Pembangunan Inklusif Disabilitas dan Kemitraan Pasca Tahun 2025 atau The ASEAN High Level Forum (AHLF) on Enabling Disability-Inclusive Development and Partnership beyond 2025, Selasa 10 Oktober 2023, di Makassar, Sulawesi Selatan.
Pada pembukaan AHLF itu, sejumlah penyandang disabilitas tampil menunjukkan kemampuan mereka dalam bermusik dan menari, sebagai simbol jika penyandang disabilitas pun bisa dan punya kelebihan dalam berbagai hal, karena AHLF itu hadir, untuk menegaskan komitmen global memberi kehidupan lebih baik bagi semua penyandang disabilitas.
Menurut Menteri Sosial Republik Indonesia Tri Rismaharini, di Indonesia, inklusi disabilitas telah diintegrasikan ke dalam rencana aksi nasional, yang mengatur pelaksanaan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di berbagai sektor, seperti kesehatan, ketenagakerjaan, pendidikan, hak-hak sipil, kesetaraan di hadapan hukum, dan hak kesejahteraan sosial.
“Dalam forum ini, kita mendorong agar negara-negara ASEAN dapat berupaya lebih keras menerapkan aksesibilitas desain ruang publik untuk para penyandang disabilitas, meningkatkan kapasitas bagi pemangku kepentingan dan sektor, serta kampanye regional untuk meningkatkan kesadaran tentang penyandang disabilitas,” kata Risma.
“Marilah kita sekali lagi menegaskan komitmen global untuk kehidupan lebih baik bagi semua penyandang disabilitas. Kita harus meningkatkan upaya, mengambil langkah afirmatif menuju penghormatan perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, meski apa yang diupayak belum tercapai sepenuhnya,” sambung mantan Wali Kota Surabaya ini.
Risma juga menekankan forum tersebut, bukanlah program amal kepada penyandang disabilitas, melainkan investasi pada sumber daya manusia tanpa terkecuali kepada banyak penyandang disabilitas. Dalam hal ini, penyandang disabilitas harus mendapatkan perhatian yang sama dengan yang bukan disabilitas.
Sara Minkara, Penasehat Khusus hak-hak disabilitas Internasional Pemerintah Amerika Serikat menambahkan, jika kegiatan AHLF tersebut menunjukkan dukungan pemerintah terhadap hak-hak disabilitas dalm berbagai sektor, dan dia sangat senang dan mengaprsiasi hal itu. “Penyandang disabilitas, punya hak yang sama, bisa jadi apa saja termasuk pengusaha dan bekerja di sektor mana pun,” tambahnya.
Hal senada disampaikan perwakilan dari Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia, Norman Yulian. Dia mengatakan, pertemuan ini menunjukkan Pemerintah Indonesia sangat serius mewujudkan indonesi inkulis. Dan dengan forum tersebut, diharapkan bisa melahirkan sebuah master plan untuk memajukan penyandan disabilitas yang ada, tidak hanya di Indonesia.
Terkait stigma yang lahir akibat kondisi yang disabilitas, Norman menegaskan, jika pemerintah Indonesia sudah bagus dalam hal sektor ketenagakerjaan. “Kita berharap nanti, semua sektor, termasuk swasta bisa menerima tenaga kerja dari kaum difabel. Karena keterbatasan yang ada tidak jadi penghalang untuk bisa bekerja di berbagai sektor. Bahkan penyandang disabilitas punya kemampuan yang bisa melebihi mereka yang normal,” tegasnya. (*)












