Sekolah Bersama Relawan di Rumah Belajar Setara

Bagikan

Hujan tidak menghalangi anak-anak usia sekolah di sekitar TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, untuk datang belajar. Melewati gundukan sampah, mereka beriringan menuju satu-satunya gedung semi permanen tidak jauh dari gerbang TPA.

Tumpukan sampah yang baunya begitu menyengat, tidak mengendorkan semangat generasi-generasi penerus bangsan di masa mendatang. Dengan pakaian biasa, dan buku dan alat tulis sakadarnya, mereka terlihat giat mengikuti instruksi para relawan pengajar yang membimbing mereka.

Sekitar Pukul 15.00 Wita, pembelajaran dimulai, anak-anak mulai belajar di Sekolah Nonformal untuk anak-anak kampung pemulung di TPA tersebut. Ada sejumlah relawan yang hadir, membagi dan mengelompokkan anak sesuai usia dan kemampuan belajarnya.

Ada lima kelompok belajar dalam ruangan berukuruan 6×12 meter, yang didominasi warna biru dan lukisan-lukisan. Mereka lalu diajar membaca, menulis, menghitung (Calistung), mengerjakan tugas, bahkan salat jika memasuki waktunya. Serta membagikan susu, makanan bergizi hingga buku cerita.

Anak-anak yang berjumlah sedikitnya 30 orang itu, ada di sana satu pekan sekali. Meraka dibimbing oleh relawan-relawan dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa, dokter, pegawai swasta dan banyak lagi. Relawan tersebut adalah Relawan Gesit Provinsi Sulawesi Selatan.

Relawan yang berada di bawah naungan Yayasan Salam Setara Amanah Nusantara itu, mulai menggelar aksi nyata peduli pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak di kampung pemulung TPA Antang, Kota Makassar, di dalam kawasan UPT TPA Antang, dan itu digelar sejak 12 Oktober 2023 lalu.

Gedung yang meraka gunakan adalah lokasi milik Taman Kanak-kanak (TK) Pabbata Ummi. Sehingga mereka berbagi ruangan. Senin-Jumat digunakan untuk sekolah formal, sementara Sabtu atau Minggu digunakan untuk sekolah nonformal.

Melalui perantara Rumah Belajar Setara, Relawan Gesit, menjembatani pendidikan. Buka jendela masa depan calon penerus bangsa. Yang menurut perwakilan Relawan Gesit, Nurwina mengatakan, pembukaan Rumah Belajar Setara berawal dari rasa keprihatinan terhadap nasib anak-anak yang berada di kampung pemulung TPA Antang.

Memang itu bukan yang pertama. Sebelum-sebelumnya juga sudah ada beberapa relawan yang masuk ke TPA Antang. Tapi menurut Nurwina, keberadaan mereka di sana, untuk membangun pendidikan inklusif, maka akses pendidikan harus dibuka seluas-luasnya lewat Rumah Belajar Setara.

“Keberadaan kami di sini, berawal dari rasa kerelawanan. Kami melihat pendidikan masih kurang di sekitar kampung pemulung ini, maka kami berkolaborasi dengan taman bermain ini, kami buka ruang belajar, khususnya bagi anak-anak yang belum sekolah,” kata Nurwina

Dia dan rekan-rekan relawannya mengaku senang dan terharu karen aantusiasme anak-anak pemulung itu sulit untuk siajak bergabung. “Bahkan, mereka yang datang sendiri, meski pun tempatnya sebenarnya kuran ideal sebagai lokais belajar karena harus bersahabat dengan bau sampah yang menyengat dan penerangan yang minim,” aku Nurwina.

Banyak suka dan duka selam keberadaan mereka di sana “Tentu ada suka dukanya apalagi sekarang sudah musim hujan, ya terkadang terlambat karena harus berteduh dan ada juga yang pernah jatuh dari motor karena hujan. Tapi harus tetap semangat apapun rintangan dan tantangan yang dihadapi, karena apa yang dilakukan ini perlu dan penting,” lanjutnya.

Syarif dan Zulfikar, anak pemulung yang ikut belajar di sana tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih dan bersyukur bisa ikut belajar di sana. “Kami senang ada kakak-kakak yang mau datang membimbing kami diajar belajar matematika (berhitung), belajar membaca dan lainnya,” seru Syarif.

“Saya senang, karena selain bisa belajar juga bisa mendapatkan teman lebih banyak, dibantu kerja tugas dan lain-lainnya,” sambung Zulfikar.

Sementara itu, seorang ibu Nina, yang datang menjemput anaknya untuk pulang juga mengaku mendukung anaknya yang rajin ke sekolah sore itu. “Anak saya sebenarnya sekolah TK di sini kalau hari biasa, kalau sabtu atau minggu dia ikut ini belajar tambahan. Karena anak saya senang, saya sebagai orang tuang tentu bahagia, liat anak saya belajar,” katanya yang mengaku tinggal dibalik gundukan sampah belakang TPA Antang. (**)

```