Minggu, September 25, 2022

Ngopi Bawah Pohon ala Disbudpar Sulsel, Respons Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Populer

MAKASSAR, LINISIAR.ID – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar “Ngopi Bawah Pohon”, ngobrol serius tapi santai di Gedung Mulo, Makassar, Kamis, 11 Agustus 2022.

Sekretaris Disbudpar Sulsel, Devo Khaddafi mengungkapkan, kegiatan ngopi bawah pohon ini dilakukan atas inisiasi Disbudpar bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulsel.

“Jadi kegiatan ini terlahir dari warung kopi dengan teman-teman SMSI, dan sekarang itu terjadi dengan ditemani kopi pula. Kegiatan ini hanya direncanakan dua hari dan langsung kita jalankan,” kata Devo.

“Jadi Ngopi itu ada singkatannya, yaitu Ngobrol Pariwisata Indonesia (Ngopi),” sambungnya.

Dalam kegiatan itu, seusai dengan namanya, yaitu membahas isu pariwisata yang lagi hangat, seperti harga tiket yang melambung tinggi sejak bulan Juli kemarin.

Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulsel, Bambang Haryanto menyatakan, kenaikan harga tiket disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah adanya kenaikan avtur atau bahan bakar dari pesawat itu sendiri.

“Penyebabnya adalah kenaikan harga avtur yang naik hampir dua kali lipat, 70 persen,” kata Bambang dalam paparannya. Dia menyebut, tak hanya Indonesia yang mengalami kenaikan harga tiket, hal itu juga terjadi di seluruh dunia.

Selain avtur lanjut dia, adanya perubahan batas tarif atas yang telah direvisi yang akhirnya membolehkan kenaikan itu terjadi.

“Karena kemarin itu tarif atas batas kan tidak boleh di naikkan dan akhirnya bahan bakarnya lah yang kita naikkan, tapi kemarin ada kebijakan lagi akan direvisi tarif batas atas boleh di naikkan. Tapi SK nya belum keluar,” jelasnya. Kemudian penyebab lain kata dia lagi, adalah setelah krisis pandemi, banyak armada yang dikembalikan ke tempat sewa, sehingga terjadi kekurangan armada.

“Sehingga permintaan naik, sementara side yang berkurang. Kedua adalah beberapa pesawat di Indonesia itu mengalami maintenance, sehingga butuh biaya yang tidak kecil,” terang Bambang.

Lanjut Bambang, harga tiket pesawat sebenarnya sudah ditentukan sebelum pesawat tersebut beroperasi. “Jadi setiap pesawat itu kan setiap keluar dari pabriknya sudah ditetapkan biaya operasionalnya sekian. Nah setelah diolah oleh maskapai keluarlah biaya operasionalnya sekian,” tutup dia.

Dengan kenaikan harga tiket pesawat tersebut, tentunya berdampak pada sektor perekonomian di Sulsel, terutama dalam sektor pariwisata karena naiknya lebih dari dua kali lipat. (*)

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

Berita Terbaru