MAKASSAR, LINISIAR.ID — Media sosial, khususnya TikTok, belakangan diramaikan oleh tren baru: jajanan sehat berbahan kukusan. Dari dimsum kukus, ubi, singkong, jagung rebus, edamame, hingga kacang tanah rebus, kuliner sederhana ini mendadak viral dan banyak dijajakan di sudut-sudut kota.
Fenomena ini muncul dari gelombang konten “real food” yang menampilkan makanan hangat, minim minyak, dan dianggap lebih ramah diet. Para kreator TikTok menyoroti tekstur, aroma kukusan, dan kemudahan penyajiannya sehingga mendorong masyarakat berburu jajanan ini pada pagi dan sore hari.
Kata Ahli: Sehat, Tapi Jangan Karbohidrat Semua
Dokter spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, mengingatkan bahwa tren ini positif namun tetap perlu dikonsumsi secara seimbang.
“Menu rebusan dan kukusan tampaknya dominan karbohidrat kompleks yang memang baik sebagai sumber energi, tapi kurang seimbang jika tanpa tambahan sumber lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa metode memasak kukus atau rebus memang lebih sehat dibanding menggoreng.
“Metode memasak dengan cara direbus atau dikukus dikenal lebih sehat karena minim penggunaan minyak dan lemak tambahan. Justru lebih baik dalam mempertahankan vitamin dan mineral,” jelasnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menanggapi viralnya fenomena ini.
“Iya lumayan itu banyak di TikTok saya lihat jutaan yang viral, saya senang. Lebih banyak makan-makanan sehat, sarapan sehat,” katanya.
Pedagang Kewalahan, Banyak Varian Baru Bermunculan
Di tingkat UMKM, tren jajanan kukusan memberi dampak ekonomi baru. Banyak pedagang mengaku omzet meningkat setelah tren ini viral.
Seorang pedagang jajanan kukus di Lampung mengatakan penjualan meningkat drastis dalam dua minggu terakhir.
“Awalnya saya coba-coba jualan ubi sama jagung kukus, ternyata banyak yang suka, terutama orang habis olahraga. Sekarang saya tambah varian lain,” ungkapnya.
Sementara itu, beberapa kreator yang ikut berjualan juga berbagi pengalamannya. Seorang pengguna Lemon8 menceritakan motivasinya membuka usaha kukusan.
“Alhamdulillah Day 1 jualan kukusan terlewati juga. Awalnya ide jualan ini muncul bukan karena ikut-ikutan, tapi karena BB mulai naik dan badan makin nggak nyaman,” tulisnya.
Ada pula warga yang mengaku ketagihan membeli karena praktis.
“Makan kukusan! Nggak pernah bosen ya. Mau kukus sendiri kadang suka ribet, jadi mending beli,” ujar salah satu pengguna media sosial.
Catatan: Jangan Tertipu ‘Kukusan Sehat’
Meski terlihat sederhana dan sehat, beberapa pengamat mengingatkan agar pembeli tetap berhati-hati. Ada pedagang yang menambahkan gula atau garam berlebih agar rasa lebih kuat.
Seorang penulis kuliner mengungkapkan:
“Salah satu menu makanan kukusan favorit adalah jagung. Tapi sayangnya, ada penjual yang mengakali dengan tambahan gula pasir.”
Pakar gizi pun mengingatkan agar konsumen tetap memperhatikan komposisi makanan dan tidak terpaku pada label “kukusan” saja.
Tren Makanan Sehat yang Menjadi Peluang UMKM
Dengan viralnya tren ini, muncul berbagai usaha baru dengan konsep “kios kukusan” di area stasiun, kampus, dan perkantoran. Banyak pedagang mengaku kewalahan melayani pelanggan saat jam sarapan dan sore hari.
Tren ini tidak hanya mengubah pola konsumsi masyarakat, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM untuk memodifikasi pangan lokal menjadi lebih modern dan digemari generasi muda.










