Minggu, April 18, 2021

Aktivis Mahasiswa Pertanyakan Penanganan Covid-19, Begini Penjelasan Dinkes Palopo

Populer

PALOPO, Linisiar.id – DPRD Kota Palopo menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan jajaran pejabat Dinas Kesehatan (Dinkes) Palopo membahas penanganan Covid-19 di Palopo, Senin (11/1/2021).

DPRD mengundang pejabat Dinas Kesehatan Palopo untuk hearing dan memberi penjelasan, setelah aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Geram menggelar aksi dan menyampaikan aspirasi di kantor DPRD.   

Dalam aspirasinya, aktivis mahasiswa antara lain meminta transparansi penggunaan anggaran penanganan Covid-19. Begit juga kebijakan penanganan Covid-19.  

Rapat dengar pendapat ini juga dihadiri sejumlah warga yang keluarganya pernah terpapar Covid-19.

Salah seorang yang menyampaikan aspirasi, Arifin meminta dinas kesehatan, pejabat Pemkot Palopo, dan perwakilan rumah sakit menjelaskan anggaran Covid-19, regulasi satgas Covid, dan klarifikasi dari rumah sakit yang menvonis pasien tanpa melalui administrasi rumah sakit.

“Kan bingung juga kita, jika anggran Rp 17 miliar itu  dikemanakan. Sementara penangan Covid di Palopo amburadul,” kata Arifin.  

Ia menegaskan, kedatangan mereka karena tiga aspek.  Pertama, karena kemanusiaan, yang kedua aspek administrasi, dan ketiga aspek regulasi.

Rapat dibuka dengan mendengarkan keluhan keluarga mantan pasien Covid-19. Antara lain dari Arifin yang juga aktivis Gerakan Aksi Mahasiswa (Geram).

Iping, panggilan akrab Arifin, mengungkapkan kekecewaan kepada pihak rumah sakit.

Forum musyawarah mulai tegang ketika statemen Iping disambung dengan nada tinggi oleh keluarga korban lainnya, Ridwan Fattah atau Kak Lie.

Anggota Komisi II Budirani Ratu mengatakan, ada miskomunikasi antara Satgas Covid-19 dengan tenaga medis di rumah sakit, sehingga menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

“Masyarakat jadi bingung, ditambah lagi Kota Palopo sampai jadi tontonan di televisi karena tingginya penyebaran Corona, kita jadi perbincangan di Luwu Raya,” sebut Budirani.

Sementara itu, pihak Satgas Covid-19 Palopo yang diwakili oleh Plt Kadinkes Palopo, Taufiq mengatakan, kasus jenazah pasien Covid-19 beberapa waktu lalu, akibat kurangnya tenaga standby yang dimiliki satgas.

Ketika itu, banyak kasus yang masuk hampir bersamaan waktunya serta terjadi pada malam hari, sehingga membuat Satgas Covid Palopo kewalahan.

“Kami akui karena kekurangan tenaga, kasus malam itu ada 2 kasus positif. Belum lagi masalah lain yang ditangani JA,” jelasnya.

“Sementara mobil ambulans PSC 119 JA tetap siaga, hanya saja petugasnya yang terbagi-bagi. Begitupun dengan pihak rumah sakit, mobilnya standby tapi masih harus menunggu petugas dari Satgas. Sehingga kami terpaksa meminta bantuan pihak keluarga untuk pemakaman jenazah,” tambahnya.

Namun Taufiq mengaku, berterima kasih atas segala masukan dan kritikan semua pihak. Ia berharap hal ini tidak menyurutkan semangat Tim Satgas untuk lebih giat lagi bekerja dan menangani kasus-kasus corona ke depannya. (*)

- Advertisement -

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

IKLAN

Berita Terbaru