LUWU TIMUR, Linisiar.id – Festival Kerajaan Nusantara (FKN) ke-13, yang diselenggarakan di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur berakhir hari ini, Kamis 12 September.
Para raja dan sultan yang menghadiri acara pementasan teater I La Galigo dan ramah tamah, menyatakan kepuasannya pada kegiatan yang berlangsung dua hari tersebut.
“Keramahan, kesatuan antara pemimpin daerah dan pemangku ada di Wotu sangat nampak,” kata Yang di Pertuan Agung Datok Sri Tengku Daeng Bahar Ismail Raja Malaysia saat dikonfirmasi, Kamis (12/9/2019).
Namun ia juga mengakui, perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain di Kedatuan Luwu dalam rangkaian FKN 2019 ini sangat melelahkan, karena jarak sangat jauh.
“Namun kelelahan itu lenyap seketika diganti dengan rasa suka setelah sampai di Wotu. Di wotu mendapat jamuan dengan baik. Disuguhkan hiburan berupa pementasan teater I La Galigo yang berjudul Sawerigading Pulang Kampung,” ujarnya.
“Saya telah mendengar nama I La Galigo itu, tapi tidak terlalu memahami. Saya penasaran, sehingga tadi malam saya menontonnya sampai habis. Kisahnya luar biasa, apalagi dimainkan para pemain yang terampil. Saya merasa kagum dan terhibur,” ujarnya
Sementara, Raja Samu-Samu VI De Laatste van Koning Stamboom, yang juga sekretaris jenderal Silatnas Raja Sultan Nusantara Indonesia ini menyatakan, jamuan yang dilakukan panitia FKN di Wotu cukup baik.
“Saya cukup mengapresiasi panitia lokal FKN di Wotu. Memberikan kesan cukup baik menyambut para raja dan sultan yang hadir,” ujarnya.
Menurutnya, beberapa kegiatan, seperti teater I La Galigo cukup memukau untuk para undangan.
“Bukan hanya kegiatan teater I La Galigo yang saya anggap sukses. Tapi dalam kegiatan ramah tamah pun kita disambut secara adat di Wotu. Saya menilai prosesi menyambut secara adat masih terjaga baik di Wotu. Apalagi kita disajikan beberapa tarian cukup sakral buat saya, seperti tarian Kajangaki dan Sumajo itu,” jelasnya.
Ketua Panitia FKN ke-13, Muhammad Nur, menjelaskan kesuksesan kegiatan ini tidak terlepas berbagi pihak yang terlibat di dalamnya.
“Suksesnya kegiatan FKN di Wotu ini, karena keterlibatan masyarakat Lutim, pemerintah daerah dan Lembaga Adat Bawalipu. Bahkan, anak-anak mudah di Wotu juga terlibat penuh,” katanya. (*)












