JAKARTA – Mulai semester ini, pelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) resmi hadir di sekolah Indonesia.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan mata pelajaran pilihan ini sejak kelas 5 SD, SMP, hingga SMA, sebagai bagian dari penguatan pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan generasi unggul di era digital.
“Koding bukan hanya soal teknologi, tetapi juga melatih logika, analisis, kreativitas, dan berpikir kritis yang penting untuk masa depan,” ujarnya dalam peluncuran program UOB My Digital Space in collaboration with Ruang Guru di Jakarta, Rabu (20/8).
Program ini didukung UOB Indonesia dan Ruang Guru. Dukungan swasta dinilai penting untuk mempercepat literasi digital.
Menurut proyeksi World Economic Forum, keterampilan digital termasuk koding dan AI akan menjadi 10 kompetensi utama yang paling dibutuhkan dunia kerja pada 2030.
Direktur Utama UOB Indonesia, Hendra Gunawan, menyebut literasi digital Indonesia masih rendah, dengan skor 43,34 persen pada 2024.
Karena itu, UOB menargetkan program ini menjangkau 90 ribu siswa di 38 provinsi dalam lima tahun, lengkap dengan perangkat dan kurikulum yang menekankan computational thinking.
“Pendidikan dan teknologi adalah kunci menjembatani kesenjangan digital sekaligus mendorong aktivitas ekonomi,” tegasnya.
Sementara itu, CEO dan Co-Founder Ruang Guru, Belva Devara, menjelaskan materi akan disesuaikan dengan jenjang: SD belajar animasi dan gim sederhana, SMP membuat aplikasi mobile, sedangkan SMA mendalami Python Programming.
“Dampak nyata pada siswa adalah penghargaan terbesar bagi kami,” kata Belva.
Dengan kolaborasi lintas sektor ini, Kemendikdasmen berharap koding dan AI menjadi bekal generasi muda menghadapi persaingan global, sekaligus memperkuat visi Asta Cita Presiden Prabowo untuk meningkatkan daya saing bangsa.












