Red Gank Serahkan Paket Bantuan Kepada Korban Banjir Bandang di Bantaeng

BANTAENG, Linisiar.id -Bantuan untuk korban banjir bandang dan tanah longsor di Bantaeng, Sulawesi Selatan terus mengalir. Red Gank, kelompok suporter PSM Makassar yang tergabung dalam SuperSoccer pun ikut ambil bagian dalam aksi kemanusiaan ini.

Pada Rabu (24/6/2020), sejumlah pengurus harian Red Gank dan perwakilan dari Sektor D’Bugis, Panaikang, Sunu, dan Kumala 1001 bergerak menuju Bantaeng. Mereka menyalurkan 200 paket sembako untuk para korban banjir dan tanah longsor.

Menurut Menteri Sosial Red Gank Muliyadi, paket sembako tersebut berisi 10 liter beras, 10 bungkus mie instan, 1 liter minyak goreng, 1 rak telur, 5 buah ikan kaleng, serta kopi dan teh sachet. Selain itu, ada juga pakaian bekas layak pakai.

“Bantuan ini berasal dari hasil penggalangan dana komunitas binaan SuperSoccer di Makassar selama seminggu. Sebagian bantuan ini juga kami berikan untuk rekan-rekan kami dari Red Gank yang menjadi korban dalam banjir bandang dan tanah longsor di Bantaeng,” ujar pria yang akrab disapa Acho ini.

Penyerahan bantuan ini dilakukan di dua titik, yaitu Posko Utama Red Gank Peduli di Jalan Pahlawan Bantaeng, serta Posko Induk COVID-19 dan Peduli Bencana Bantaeng.

“Kami berharap bantuan ini bisa meringankan beban para korban banjir dan tanah longsor. Semoga memberikan manfaat bagi mereka,” imbuh Acho.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Red Gank, Ibrahim Imran mengatakan pemberian bantuan oleh suporter yang tergabung dalam SuperSoccer di Makassar ini memang ditujukan untuk warga yang benar-benar membutuhkan.

Menurut Ibra, pihaknya melakukan penggalangan dana selama seminggu. Selanjutnya hasil sumbangan tersebut dibelikan sembako yang dikemas dalam bentuk paket.

“Ini wujud kepedulian kami dari Red Gank terhadap sesama yang membutuhkan. Selama ini kami memang selalu bergerak dan berusaha memberikan bantuan jika ada bencana,” tutur Ibra.

Proses pemulihan dampak banjir bandang di Kabupaten Bantaeng masih terus berjalan. Banjir bandang ini terjadi setelah Sungai Calendu meluap, yang diperparah dengan jebolnya Cekdam Balang Sikuyu Allu. Lebih dari 2.000 rumah warga mengalami kerusakan. (*)

Editor: Saddam Husain