Minggu, Juni 13, 2021

OPINI: Upaya Pembudidayaan Tanaman Nilam pada Sela Pertanaman Kakao di Malangke Barat

Populer

Linisiar.id – Kecamatan Malangke Barat yang memiliki luas wilayah 93,75 km2 ini merupakan satu kecamatan yang terletak di ujung sebelah selatan Kabupaten Luwu Utara.

Malangke Barat memiliki 13 desa yang dimana seluruh desa tersebut merupakan desa definitif.

Salah satu kecamatan yang paling potensial dan sudah dikenal sebagai sentra produksi perkebunan kakao di Kabupaten Luwu Utara (Lutra) adalah Kecamatan Malangke.

Komoditas tanaman kakao dibudidayakan pada hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Malangke.

Sehingga umumnya masyarakat di wilayah ini menggantungkan hidup mereka dari hasil tanaman kakao. Oleh karena itu, penurunan produksi kakao beberapa decade terakhir cukup mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat yang sangat bergantung pada komoditas ini.

Para petani menanam tanaman kakao secara monokultur dan mayoritas menggantungkan hidupnya pada komoditi ini, disamping tanaman kelapa sawit.

Sebagai tanaman tahunan, kakao memiliki siklus produksi maksimal dua kali setahun atau kegiatan panen raya dilakukan selama dua kali setahun.

Disebabkan berbagai faktor seperti iklim dan serangan organism pengganggu tanaman, maka kegiatan panen puncak produksi kakao yang biasanya diperoleh dalam jumlah besar sudah jarang dinikmati petani.

Nilam merupakan tanaman yang butuh kondisi ruang terbuka. Hingga kini masih dianut paham bahwa tanaman nilam yang ditanam di bawah naungan memberikan rendemen hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan yang ditanam di tempat terbuka.

Maka dari itu, tanaman nilam dapat dikembangkan dengan sistem tumpangsari dengan tanaman keras seperti tanaman kakao.

Pemanfaatan lahan pada sela tanaman kakao dengan menanam tanaman nilam, dapat menjadi cara alternatif dalam pendapatan petani kakao ketika terjadi penurunan produksi tanaman kakao.

Dengan budidaya lorong nilam pada tanaman kakao, memberikan keuntungan bagi petani yaitu menekan biaya operasional terutama biaya pemeliharaan, mengurangi resiko terjadi penurunan harga, kegagalan panen akibat serangan hama atau penyakit, curah hujan yang sangat tinggi atau kekeringan dan meningkatkan produktivitas tanah oleh hasil tanaman sela. (*)

Oleh: Kasril (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah IAIN Palopo)

- Advertisement -

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

IKLAN

Berita Terbaru