Gerindra Pangkep Kawal Permohonan Jalan Terowongan untuk Petani Bontotene

Wakil Ketua DPC Gerindra Pangkep, Syahruddin menanggapi permohonan Kelompok Tani Bontotene dan Bonto Tajjoro perihal permohonan pembuatan terowongan untuk akses Alsintan (alat pertanian), ternak dan petani dari sisi timur rel menuju sisi barat rel kereta api

PANGKEP, LINISIAR.ID – Wakil Ketua DPC Gerindra Pangkep, Syahruddin menanggapi permohonan Kelompok Tani Bontotene dan Bonto Tajjoro perihal permohonan pembuatan terowongan untuk akses Alsintan (alat pertanian), ternak dan petani dari sisi timur rel menuju sisi barat rel kereta api.

Anggota DPRD Pangkep ini mengatakan, pertama-tama, pihaknya menjadikan ini usaha Gerindra untuk meng-goal-kan konsep dan usulannya kelompok tani. Sehingga, kata dia, mutlak harus tertangani untuk diteruskan kepada pihak yang kompeten.

“Teknisnya saya sebagai anggota DPRD Pangkep dan teman-teman melihat bagaimana master plane dari rel itu. Misalkan, di mana ada titik terowongan perlintasan. Jika dimungkinkan dekat-dekat dengan lokasi Biraeng, itu kita sampaikan, sosialisasikan ke semua warga bahwa ada perlintasan di sini misalnya,” kata Politisi Gerindra ini.

Namun, lanjut dia, jika dianggap tidak ekonomis misalnya buat petani timnya akan mengusulkan meski usulan itu membutuhkan waktu karena pembuatan perlintasan membutuhkan biaya baru.

“Biaya baru sesungguhnya bukan kepada pemborongnya, tapi pembuat proyek itu. Jadi kita cari tahu di mana jalurnya pembuatan, denah dan biaya proyek. Jika itu memungkinkan, sesegera itu kita buat. Kita usulkan ke pimpinan proyek melalui siapa yang membiayai proyek itu. Minimal ratusan juta itu karena itu perlintasan, harus betonisasi, kerangka tulang. Saya kira itu diperhitungkan,” kata pria 58 tahun ini.

Dia menegaskan, yang jelas amanah ini sudah ditangkap untuk diusulkan ke pihak yang berkompeten.

Sementara itu, Hafiruddin Halik anggota Kelompok Tani Bontotene mengatakan pihaknya telah menyurati PPK Pengembangan Perkeretaapian Sulawesi Selatan dalam bentuk proposal yang tertanda 2 September 2020, namun hingga kini belum menuai hasil signifikan.

“Sebenarnya sudah kami menyurat ke PPK SATKER PERKERETAPIAN SULSEL, surat tersebut atas nama kelompok tani, dan diketahui oleh PPL dan Lurah Minasatene, namun sampai saat ini pihak lurah belum memfasilitasi atau dipertemukan antara petani, Satker, dan kontraktor. Belum ada juga surat pemberitahuan dari satker,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Minggu, (28/9/2020).

Dalam proposal tersebut, Kelompok Tani menyebutkan 4 poin penting, yang pertama, pada KM 40-600 s/d KM 41+100 pada gambar rencana rel KA dibuatkan terowongan untuk akses Alsintan (alat pertanian) terutama mesin pemotong padi.

Kemudian, pada KM 41-080 terdapat jaringan sekunder Tabo-tabo, diinginkan dibuatkan jembatan pelintas untuk mesin pemotong padi karena selama ini ada jembatan kayu milik warga namun tergusur oleh pembangunan rel KA. Selain itu perlu rekondisi pembentukan badan jalan sisi bagian barat rel KA.

Keempat, pada underpass saluran pembuang KM 40-700 dibuatkan plat pelintas sebagai akses mesin pemotong padi bagian sisi barat dan sisi timur rel KA.

Sebelumnya, hal ini terungkap saat Cabup Pangkep nomor urut 4 Andi Nirawati bertatap muka dengan warga Kelurahan Biraeng dan Kelompok Tani Bontotene, pada kampanye awal 26/9/2020, lalu.

Warga mengeluhkan timbunan tanah pembangunan rel KA yang menutup akses Alsintan petani menuju persawahan. Hal ini kemudian menjadi catatan penting Partai Gerindra Pangkep dan berinisiatif mengawal Kelompok Tani Bontotene dan Bonto Tajjoro menyelesaikan permasalahan tersebut.(*)