MAKASSAR, LINISIAR.ID – Partai NasDem menghadapi dilema strategis dalam menentukan Pergantian Antar Waktu (PAW) kursi DPR RI di Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan III, menyusul perpindahan Rusdi Masse ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Sejumlah nama mencuat sebagai kandidat pengganti, di antaranya Putri Dakka, Hayarna Hakim dan Judas Amir. Namun, sorotan publik mengarah kuat kepada Putri Dakka yang mencatatkan perolehan suara paling signifikan pada Pemilu Legislatif lalu.
Pengamat politik dari UIN Alauddin Makassar, DR. Ibnu Hajar, menilai keputusan NasDem dalam menentukan PAW akan sangat mempengaruhi arah kekuatan partai ke depan.
“Jika melihat basis elektoral, Putri Dakka memiliki legitimasi paling kuat. Mengabaikan figur dengan suara tertinggi berpotensi menjadi kerugian politik bagi NasDem,” ujarnya.
Pada caleg internal Partai NasDem di Dapil Sulsel III, terdapat tiga nama utama berdasarkan perolehan suara: Putri Dakka 53.700 suara, Hayarna Hakim 29.162 suara, Judas Amir 12.669 suara. Namun, jika dilihat secara objektif dari sisi elektoral, Putri Dakka dinilai paling layak untuk diusung.
Putri Dakka Paling Kuat untuk PAW NasDem
Berdasarkan data rekapitulasi KPU, Putri Dakka meraih 53.700 suara tertinggi di antara kandidat PAW dari internal NasDem dan berada di posisi ketiga setelah Rusdi Masse dan Eva Stevany Rataba. Sementara itu, Hayarna Hakim 29.162 suara dan Judas Amir hanya memperoleh 12.669 suara.
Dalam konteks Dapil Sulsel III—yang mencakup wilayah Sidrap, Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, Kota Palopo, hingga Luwu Timur—persaingan dikenal sangat ketat dan kerap disebut sebagai “dapil neraka”. Wilayah ini diisi figur-figur kuat, mulai dari petahana, mantan kepala daerah, hingga jaringan keluarga penguasa.
Namun menariknya, suara tertinggi justru diraih oleh figur non-elite. Putri Dakka, yang bukan berasal dari dinasti politik, mampu mencatatkan lonjakan suara signifikan, melampaui kandidat lain yang memiliki latar belakang kekuasaan.
“Di dapil seperti ini, biasanya yang unggul adalah figur dengan kekuasaan. Namun yang terjadi justru berbeda, suara tertinggi datang dari figur non-elite politik, artinya, klaim keberhasilan politik di daerah tidak tercermin secara elektoral,” Ujar Ibnu Hajar.
Figur Hayarna Hakim dan Judas Amir Raih Suara Minim
Figur Hayarna Hakim yang meski didukung kekuatan politik keluarga, termasuk posisi suami sebagai Bupati Luwu saat pemilu 2024 dan anaknya sebagai Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Luwu, perolehan suaranya tidak menunjukkan hasil yang maksimal.
“Hayarna Hakim hanya memperoleh 29.162 suara. Dengan latar belakang kekuatan politik yang kuat—di mana suaminya menjabat sebagai bupati saat pemilu, termasuk anaknya sebagai Ketua DPD NasDem Kabupaten Luwu, ternyata tidak mampu mendongkrak perolehan suara secara signifikan” ucap Ibnu Hajar.
“Dalam kondisi memiliki kekuatan struktural seperti itu, seharusnya capaian suara bisa jauh lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu berbanding lurus dengan kepercayaan pemilih,” lanjutnya.
Ia menilai, hasil tersebut mencerminkan adanya keterbatasan daya tarik elektoral, meskipun didukung oleh kekuasaan politik yang signifikan. “Dalam politik modern, elektabilitas dan rekam jejak suara menjadi indikator utama,” jelasnya.
Hal serupa juga terjadi pada figur Judas Amir, sebagai mantan Wali Kota Palopo dua periode dan juga menjabat Ketua DPD NasDem Kota Palopo dinilai belum mampu dikonversi menjadi kekuatan elektoral di pemilihan tingkat nasional.
Judas Amir tercatat hanya meraih 12.669 suara. Padahal, ia memiliki rekam jejak sebagai Wali Kota Palopo dua periode, Ketua DPD NasDem di Palopo. Capaian ini dinilai jauh dari ekspektasi.
“Ini menjadi ironi. Jabatan besar dan kekuasaan politik di daerah tidak mampu dikonversi menjadi suara di tingkat DPR RI. Artinya, klaim keberhasilan politik di daerah tidak tercermin secara elektoral,” ujar pengamat politik, Ibnu Hajar.
Putri Dakka Dinilai Berhasil Pimpin DPD NasDem Luwu Utara
Selain faktor elektoral, rekam jejak kepemimpinan Putri Dakka juga menjadi pertimbangan. Sebagai Ketua DPD NasDem Luwu Utara, ia berhasil mengantarkan partai meraih lima kursi DPRD—sebuah capaian yang dinilai sebagai bukti kemampuan membangun mesin politik dan konsolidasi suara.
“Di Luwu Utara, di bawah kepemimpinan Putri Dakka, Partai NasDem berhasil meraih 5 kursi DPRD. Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti nyata kemampuan membangun mesin politik dan mengonsolidasikan suara di lapangan,” lanjutnya.
Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengingatkan, jika Putri Dakka tidak dipilih sebagai PAW, NasDem berpotensi menghadapi berbagai risiko, mulai dari penurunan kepercayaan publik, melemahnya soliditas internal, hingga potensi penurunan suara pada Pemilu 2029.
“Ini bukan sekadar mengisi kursi kosong, tetapi bagaimana partai menjaga momentum dan kepercayaan publik. Jika figur dengan kekuatan elektoral seperti ini tidak diakomodasi, partai bisa kehilangan mesin utamanya,” tegasnya.
Dengan dinamika yang berkembang, keputusan akhir NasDem dinilai akan menjadi penentu apakah partai mampu mempertahankan bahkan memperkuat posisinya di Sulsel III, atau justru kehilangan peluang akibat mengabaikan kekuatan elektoral yang telah terbukti. (*)












