“Kan tidak bagus ketua DPD kabupaten tidak seiring dengan ketua DPD provinsi. Kami sudah laporkan perkembangan di Pinrang. DPD Golkar Sulsel sudah jalan lakukan survei,” ujarnya.
Bagi Usman, hubungan yang terkoordinasi antartingkatan kepengurusan menjadi bagian penting dalam memastikan program partai tidak berhenti pada tataran administratif, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang konkret.
Komunikasi tersebut juga diperlukan agar pelaksanaan Musda berjalan sesuai mekanisme dan petunjuk teknis yang berlaku di internal partai.
Dalam konteks regenerasi, pesan itu sekaligus menempatkan calon ketua pada tanggung jawab yang lebih luas. Pemimpin baru tidak hanya bertugas mengelola kepentingan di tingkat kabupaten, tetapi juga menjaga kesinambungan koordinasi dengan struktur Golkar Sulsel.
Sementara itu, tahapan persiapan Musda Golkar Pinrang telah memasuki pembentukan kepanitiaan. DPD II Golkar Pinrang menggelar rapat pleno pada Kamis, 8 Oktober 2026, untuk membahas persiapan pelaksanaan Musda sekaligus menetapkan susunan panitia penyelenggara.
Dalam rapat tersebut, Usman Bengawan yang merupakan Ketua Fraksi Golkar DPRD Pinrang disepakati sebagai Ketua Penyelenggara.
Adapun Amri Manangkasi, Ketua Komisi II DPRD Pinrang, dipercaya memimpin panitia pengarah atau steering committee (SC). Sementara Rusna, Bendahara Fraksi Golkar DPRD Pinrang, ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana.
Pembentukan kepanitiaan menjadi salah satu tahapan awal untuk memastikan agenda Musda yang direncanakan berlangsung pada November 2026 dapat dipersiapkan sesuai mekanisme organisasi.
Seiring berjalannya persiapan, perhatian kini tertuju pada hasil survei bakal calon, proses pencalonan, serta figur-figur yang akan muncul dalam kontestasi kepemimpinan Golkar Pinrang.
Namun, di balik seluruh tahapan tersebut, isu regenerasi menjadi salah satu pesan yang mengemuka dari Usman Marham.
Di tengah dukungan yang masih mengarah kepadanya, ia mendorong agar Musda tidak hanya dipandang sebagai arena menentukan siapa yang akan memimpin Golkar Pinrang, tetapi juga sebagai kesempatan menyiapkan kader yang memiliki pengalaman, memahami organisasi, dan mampu menjaga konsolidasi partai.
Pada akhirnya, tantangan kepemimpinan Golkar Pinrang bukan hanya menyangkut siapa yang akan menduduki kursi ketua.
Lebih dari itu, Musda November mendatang menjadi momentum untuk menentukan arah pengelolaan organisasi dan menyiapkan kesinambungan kepemimpinan dalam menghadapi dinamika politik menuju Pemilu 2029.













