MAKASSAR, LINISIAR.ID — Ratusan civitas akademika Universitas Negeri Makassar (UNM) antusias mengantar Prof. Dr. Hj. Andi Aslinda, M.Si., mendaftar sebagai bakal calon Rektor UNM periode 2027–2031, Senin (28/9/2026).
Sejak tiba di kawasan Menara Pinisi, Wakil Rektor Bidang Akademik UNM itu disambut ratusan civitas akademika yang telah berkumpul di pelataran. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari pimpinan universitas dan fakultas, anggota senat, dosen, tenaga kependidikan, hingga unsur civitas akademika lainnya.
Suasana pelataran Menara Pinisi tampak ramai. Rombongan kemudian mengantar Prof Andi Aslinda menuju Sekretariat Panitia Pemilihan Rektor di Lantai 14 Menara Pinisi untuk menyerahkan berkas pendaftaran.
Sejumlah anggota Senat UNM yang memiliki hak suara dalam proses pemilihan rektor juga terlihat berada dalam rombongan. Selain anggota senat, sejumlah wakil rektor dan dekan turut mendampingi Prof Andi Aslinda hingga proses pendaftaran.
Prof Andi Aslinda menyampaikan apresiasi atas antusiasme civitas akademika yang hadir. Kehadiran berbagai unsur kampus tersebut menjadi penyemangat baginya untuk mengikuti seluruh tahapan Pemilihan Rektor UNM.
Antusiasme civitas akademika itu terlihat di tengah beredarnya pamflet penolakan di media sosial yang mengatasnamakan “Ikatan Keluarga Alumni Muda”. Pamflet tersebut memuat seruan penolakan terhadap figur nonalumni memimpin UNM serta mencantumkan rencana aksi pada Senin (28/9/2026) di depan Menara Pinisi.
Namun, aksi sebagaimana tercantum dalam pamflet tersebut tidak terlihat berlangsung di lokasi. Pelataran Menara Pinisi justru dipadati ratusan civitas akademika yang hadir menyambut dan mengantar Prof Andi Aslinda mendaftar.
Seruan penolakan terhadap figur nonalumni itu juga mendapat respons dari lingkungan akademik UNM. Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNM, Prof. Dr. Drs. Arifuddin Usman, M.Kes., mengkritik sikap yang mempersoalkan latar belakang alumni dan nonalumni dalam kontestasi Pemilihan Rektor UNM.
Arifuddin menilai pemilihan rektor semestinya lebih mengedepankan kapasitas dan kemampuan figur dalam memimpin serta membawa UNM berkembang ke depan, bukan semata-mata mempersoalkan apakah kandidat merupakan alumni atau nonalumni.
Menurut dia, sebagai institusi pendidikan tinggi, UNM semestinya menjunjung nilai akademik dan keterbukaan. Kontestasi pemilihan rektor, karena itu, perlu menjadi ruang adu gagasan, rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, dan visi untuk membawa universitas semakin berkembang.
Setelah menyerahkan berkas pendaftaran, Prof Andi Aslinda selanjutnya akan mengikuti tahapan Pemilihan Rektor UNM periode 2027–2031 sesuai mekanisme yang ditetapkan panitia, termasuk penyampaian visi, misi, dan program kerja.













