Jumat, Februari 26, 2021

Masyarakat Diminta Antisipasi Air Pasang Dampak Gerhana

Populer

MAKASSAR, Linisiar.id – Masyarakat di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan diminta untuk mengantisipasi dampak dari Gerhana Bulan Total (GMT) atau Super Blood Moon yang terjadi di belahan dunia seperti air pasangpasang.

“Gerhana bulan total di Indonesia itu tidak bisa dinikmati karena mulainya sejak pagi hingga sore,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Data dan Informasi (Datin) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Selatan Daryatno di Makassar, Senin (21/1/2019).

Beberapa pesisir pantai di Indonesia yang perlu mendapat perhatian yakni pesisir Utara pantai Jakarta, pesisir Utara Jawa Tengah, pesisir Utara Jawa Timur, pesisir Cilacap, pesisir Tanjung Benoa, Bali, pesisir Kalimantan Barat dan pesisir Makassar.

Ia mengatakan Gerhana Bulan Total atau lebih familiar dengan sebutan “Super Blood Wolf Moon” terakhir dinikmati di Indonesia pada 2018 dengan dua kali terjadi yakni pada 31 Januari 2018 dan 28 Juli 2018.

Daryatno menyatakan Gerhana Bulan Total kembali terjadi pada Senin, 21 Januari 2019, namun gerhana ini tidak bisa dinikmati dengan mata telanjang karena terjadi di siang hingga sore hari.

“Gerhana bulan total terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam garis lurus untuk waktu yang singkat dan posisi bulan akan berada pada titik terdekat dengan bumi (perigee), bulan akan berjarak 357,715 kilometer dari bumi dan ini merupakan jarak terdekatnya,” katanya.

Proses gerhana bulan total berdasarkan fase dan waktunya mulai    02:36:30  UT atau pukul 10:36:30 Wita. Gerhana sebagian mulai    pukul 03:33:54  UT atau pukul 11:33:54 Wita. Gerhana total mulai  04:41:17 UT atau pukul 12:41:17 Wita dan puncak gerhana  pukul 05:13:27  UT atau pukul 13:13:27 Wita.

“Gerhana total berakhir pukul 05: 43:16  UT atau pukul 13:43:16 Wita, gerhana sebagian berakhir    pukul 06: 50:39  UT atau pukul 14:50:39 Wita. Gerhana berakhir pukul 07:48:00  UT atau 15 : 48:00 Wita,” terangnya.

Ia menjelaskan dari waktu kejadian dan peta visibilatas di atas, kejadian “Super Blood Wolf Moon” ini tidak terlihat di wilayah Indonesia, super blood wolf moon akan terlihat jelas di Amerika, Greenland, Islandia, Eropa Barat, dan Afrika Barat, serta sebagian kecil Asia.

Gerhana Super Blood Wolf Moon diperkirakan akan berlangsung selama 5 jam 11 menit 30 detik dan untuk fase totalnya diperkirakan berlangsung selama 1 jam 1 menit 59 detik.

“Super Blood Wolf Moon sebenarnya berasal dari tiga fenomena bulan yaitu, supermoon, blood moon, dan wolf moon,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, super moon, terjadi ketika bulan berada pada titik terdekatnya dengan bumi (perigee). Bulan tampak sedikit lebih terang dan lebih dekat dari biasanya.

Namun hal ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, dibutuhkan alat khusus untuk melihat perbedaan ukuran bulan biasa dengan super moon.

Blood moon, terjadi ketika bumi mengalami fenomena gerhana total. Bulan yang biasanya berwarna putih akan menjadi merah atau cokelat kemerahan seperti warna darah.

Bulan akan terlihat kemerahan saat bulan berada di bayangan inti bumi (umbra). Bulan menjadi warna merah karena cahaya yang dipancarkan sangat redup.

Wolf moon, kondisi di mana bulan berada pada titik terdekatnya dengan bumi yang terjadi di bulan Januari yang merupakan musim keluarnya serigala untuk berburu makanan dan melakukan perkawinan utamanya di benua Amerika.

- Advertisement -

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

IKLAN

Berita Terbaru