Berita  

Koprs Puteri PMII IAIN Palopo Kembali Gelar Bincang Buku yang Berjudul Sejarah Perempuan Indonesia

Bagikan

Palopo, Linisiar.id – Pengurus Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Puteri Komisariat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Palopo kembali menggelar dialog bincang buku, Senin (19/4/2021) malam

Dialog kali ini berbincang tentang buku yang berjudul, ” Sejarah Perempuan Indonesia” oleh sahabatwati Khaerunisa dengan mengunakan on google meet

Sahabatwati Khaerunisa dalam paparanya mengemukan secara singkat dibuku ini dalam pengantar dijelaskan oleh Cora Vreede-De Stuers bahwa catatan dalam sejarah itu tidak terlepas dari 3 sistem adat yaitu matrilineal, patrilineal dan bilineal yang kemudian tercampur dan dikait-kaitkan dengan hukum islam yang kemudian mengatur daripada jalannya sistem kehidupan manusia pada zamannya.

Berbicara mengenai sejarah perempuan, pada awal abad ke-20 sosok yang paling terkenal ialah R.A Kartini yang memprotes feodalisme dan budaya patriarki.

Kartini ingin para perempuan Indonesia menjadi perempuan yang terdidik dengan pemikiran yang maju. Ia ingin memberantas kebodohan yang ada disekitarnya.

Perlahan tapi pasti kemudian kesadaran masyarakat mulai tumbuh tapi masih dalam individu. Kemudian dari individu ini bertransformasi menjadi kesadaran organisasional.

Kemudian mereka mulai membentuk organisasi-organisasi modern dengan menyuarakan pendapat mereka lewat konferensi-konferensi, dengan tujuan menciptakan gerakan untuk kemajuan literasi dari para perempuan dan mereformasi aturan legal yang ada pada zaman itu yang mengatur perempuan mulai dari akad nikah, talak cerai,  pernikahan dini dan poligami yang sejatinya seluruhnya itu merugikan daripada perempuan.

Kemudian terjadi peristiwa kongres perempuan pertama pada tanggal 22-26 Desember 1928 yang diikuti sekitar ±30 organisasi-organisasi perempuan, konferensi ini fokus membicarai mengenai pendidikan, perkawinan dini, dan poligami.

Kemudian pergerakan dari organisasi-organisasi perempuan ini mulai melemah atau dapat masa kegelapan ketika meletusnua peristiwa G 30 S/PKI, dimana gerakan perempuan didomestikasi atau dipulangkan kembali kerumah mereka. Dimulai dari penghancuran GERWANI oleh orde baru.

Kemudian muncullah jargon-jargon seperti konco winking atau perempuan berada dibawah kedudukan suami. Dimana sebaik-baiknya dari perempuan ialah yang taat dan patuh kepada suaminya dan tetap selalu diranah domestik.

Jadi, disini setelah mengetahui sejarah yang pelik, baik baginya kita generasi perempuan yang sadar untuk lebih menganalisa apakah sistem adat matrilineal, patrilineal dan bilineal ini masih diterapkan dibeberapa daerah, dan penting bagi kita untuk lebih mensosialisasikan betapa pentingnya pendidikan dan pengetahuan bagi perempuan. Karena tidak bisa dihindari bahwa daerah-daerah pelosok itu masih tertanam budaya-budaya seperti itu.

Melihat dari sejarah perempuan mulai dari awal abad ke 20 seperti yang dijelaskan oleh Cora dalam bukunya itu tidak terlepas dari yang namanya budaya literasi.

Bahkan kita sendiri pun mengetahui yang namanya sejarah itu dari literatur-literatur bacaan yang ada.

Jadi disini agar tidak tenggelam oleh zaman, agar dimasa depan generasi yang akan datang mengetahui bagaimana keadaan zaman saat ini. Maka itu semua dapat terjadi karena tulisan.

Jadi kesimpulanya melihat dari sejarah perempuan mulai dari awal abad ke 20 seperti yang dijelaskan oleh Cora dalam bukunya itu tidak terlepas dari yang namanya budaya literasi.

“Bahkan kita sendiri pun mengetahui yang namanya sejarah itu dari literatur-literatur bacaan yang ada. Jadi disini agar tidak tenggelam oleh zaman, agar dimasa depan generasi yang akan datang mengetahui bagaimana keadaan zaman saat ini. Maka itu semua dapat terjadi karena tulisan,” kunci Khaerunisa dalam dialognya. (Ayub)

```

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *