MAKASSAR, LINISIAR.ID – Kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman bersama Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi dalam mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur jalan hingga puluhan triliun rupiah dinilai sebagai langkah berani sekaligus terobosan penting bagi percepatan pembangunan daerah.
Hal tersebut disampaikan Pakar Pembangunan Wilayah dan Tata Ruang Universitas Bosowa, Profesor Batara Surya, menanggapi langkah Pemprov Sulsel yang gencar mendorong program pembangunan infrastruktur secara masif melalui skema Multiyears Project (MYP).
“Skema Multiyears Project yang diterapkan Pemprov Sulsel menunjukkan komitmen yang luar biasa dari Pak Gubernur Andi Sudirman Sulaiman. Mengalokasikan anggaran besar untuk jalan sepanjang kurang lebih 1.400 kilometer di seluruh kabupaten/kota adalah langkah berani yang rasional dan terukur,” ujar Profesor Batara Surya di Makassar, Senin (13/7/2026).
Menurut Profesor Batara, keputusan fokus pada percepatan konektivitas antardaerah sangat tepat karena infrastruktur jalan merupakan urat nadi utama perekonomian, khususnya di wilayah yang memiliki potensi pertanian, perkebunan, dan pariwisata yang tersebar di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Ia menjelaskan, dengan keterbatasan APBD jika hanya mengandalkan skema anggaran tahunan, percepatan pembangunan jalan sulit diakselerasi secara optimal.
Sebab, penanganan jalan yang hanya dilakukan secara parsial setiap tahun seringkali tidak tuntas dan cepat mengalami kerusakan kembali akibat tingginya beban mobilitas.
“Pola penanganan jalan secara tambal sulam justru memboroskan anggaran jangka panjang. Dengan Multiyears Project, penanganan jalan dilakukan secara tuntas, menyeluruh, dan berkualitas tinggi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat,” jelas Dekan Pascasarjana Unibos ini.
Lebih lanjut, Pakar Regional ini menekankan bahwa dampak dari pembangunan jalan sepanjang 1.400 kilometer tersebut tidak hanya sekadar mempermudah akses transportasi, tetapi juga akan mengubah lanskap konektivitas wilayah dan memicu munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pendukung (hinterland).
Ia mencontohkan, pembukaan dan peningkatan kualitas jalan di wilayah pelosok dan perbatasan antardaerah akan mempercepat rantai pasok hasil pertanian dari desa ke kota, menekan biaya logistik, serta meningkatkan daya saing produk lokal.
“Ketika jalan terbuka dan bagus, ongkos angkut hasil tani turun dramatis. Hal ini langsung meningkatkan pendapatan petani sekaligus memicu gairah ekonomi di tingkat lokal. Inilah multiplier effect yang sangat masif dari investasi infrastruktur,” paparnya.
Profesor Batara mengapresiasi keberanian politik Gubernur Andi Sudirman yang menempatkan kebutuhan mendasar masyarakat di atas pertimbangan jangka pendek. Ia menilai kepemimpinan yang berfokus pada hasil karya nyata untuk jangka panjang adalah hal yang dibutuhkan Sulawesi Selatan saat ini.
“Pak Gubernur tidak hanya berpikir untuk masa jabatannya saja, tetapi membangun fondasi konektivitas Sulsel untuk 10 hingga 20 tahun ke depan. Dampak pembangunan 1.400 kilometer jalan ini akan menjadi warisan berharga (legacy) yang dirasakan oleh generasi mendatang,” tegasnya.
Pihaknya pun mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah di kabupaten/kota untuk mendukung penuh dan mengawal pelaksanaan program MYP tersebut agar dapat selesai tepat waktu, tepat mutu, dan memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Selatan. (*)













