LINISIAR – “Goodness is the only investment that never fails.”
Tampil menyampaikan pidato pembukaan Musda XI, Ketua Partai Golkar Pinrang, Usman Marham — yang beberapa jam kemudian akan mengakhiri masa jabatannya — tak kuasa menahan haru. Ia tersedu. Air matanya meleleh.
Orang terdekatnya tanggap, naik panggung. Meletakkan sebungkus tisu di podium, tepat di hadapan Usman yang sedang pidato. Amatan saya, ia empat kali menarik tisu, menyeka air matanya.
“Maafkan, Pak Ketua…” ujarnya nada serak, ditujukan pada Ilham Arief Sirajuddin, Ketua Golkar Sulsel, duduk di kursi depan disela seribuan orang yang hadir. “Saya benar-benar terharu, Ketua.”
Sebagian hadirin ikut terharu. Apa gerangan membuat adik kandung mantan Sekjen DPP Golkar, Idrus Marham itu sedikit emosional? Apakah karena kurun waktu setahun 2026 ini, ia dua kali menghelat pesta Golkar, ubahnya pesta pengantin anak saudagar?
───
Sebelumnya, 08/02/2026, ia tuan rumah Konsolidasi Golkar Dapil III (sembilan kab/kota se-Sulsel). Lalu, menyusul 03/11/2026, lagi-lagi ia menghelat Musda XI Golkar Pinrang.
Syahdan, kedua kegiatan itu menghadirkan ribuan orang. Masing-masing disembelih dua ekor sapi, demi menjamu para tetamunya. Belum lagi menyebut kantor Golkar Pinrang, ia renovasi berbiaya lebih satu miliar rupiah dari kantong pribadi
Bahkan, terlintas di benak saya, jangan-jangan Usman terharu akibat sekian hari lalu, rumah arsitek kayu ulin kesayangannya — juga berada di kawasan kedua acara itu dihelat, ludes terbakar, rata dengan tanah.
Namun, cara seksama saya menyimak narasi pidatonya, rupanya asumsi saya keliru. Baginya — seperti tulisan termaktub di bentangan spanduk depan panggung, “Berkarya Itu Adalah Ibadah.” Sungguh, ia penganut paham dan doktrin itu.
Ia, tulen kader Golkar 24 karat. Ia khatam doktrin “karya kekaryaan” (Siaga Gatra Praja). Ia makhfum, hakikat kemanusiaan ialah berkarya. Jati diri seseorang tak diukur dari citra, tetapi pada karya.
Jika politik berorientasi pada kekuasaan, maka kekuasaan orientasinya pada karya. Dan karya, itulah ibadah. Karya yang me-legacy. Karya yang berjejak, tentang siapakah diri kita, meski kelak kita tak lagi ada di permukaan bumi.
───
Ketua Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin, giliran berpidato. Lelehan air mata, kedua kali tumpah Bahkan, berderai isak tangis tertahan.
Pemicunya, Ketua Golkar Sulsel melontar apresiasi tinggi atas pengorbanan tiada tara dilakukan Usman selama satu periode memimpin Golkar Pinrang. “Tentu saja…” ujar Ilham, “semua pengorbanan itu tiada mungkin terjadi andai Ibu Hj. Fatma, istri Usman, tak memberi restu, bahkan ikut berkorban demi kejayaan Golkar di Pinrang.”
Sesaat saya berpaling ke arah Ibu Fatma, duduk tepat di belakang saya. Ia menarik tisu, mengusap air mata meleleh di pipinya. Ia menarik kacamata hitam, menutupi matanya. Meski isak tangisnya yang tertahan tetap terdengar.
“Saya maklum jika Ibu Fatma terharu. Saat pelantikan Golkar Sulsel, istri saya juga terhatu, mengenang bagaimana ia pun rela berkorban demi menggapai keinginan saya untuk memimpin Golkar Sulsel,” jelas Ilham.
Satu hal, paling dikagumi Ilham pada pribadi Usman, tak ambisi mempertahankan jabatannya. Kala banyak orang ingin bertahan, berebut menjadi Ketua Golkar, Usman justru merasa cukup satu periode. Tanpa menuntut apa telah ia korbankan untuk Golkar.
Hebatnya lagi, ia pun telah menyiapkan kader penerus yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan Golkar di Pinrang. “Hebat, langka, patut dicontoh,” kata Ilham.
───
Tampil menyampaian laporan akhir masa baktinya, Usman kembali bicara nada terbata-bata. Kedua kalinya, air matanya tumpah. Dan asyiknya, Akbar Polo, satu pengurus Golkar Sulsel, tanggap mengantarkan tisu ke podium.
Giliran berikut, Ketua Golkar Pinrang terpilih, Hastan Mattanete, menyampaikan “victory speech”, pidato kemenangan, ajaib ia pun menumpah air mata. Akbar Polo tetap tanggap, sekali lagi mengantar sebungkus tisu ke podium.
Hastan, wakil rakyat peraih suara tertinggi Pileg 2024 di Pinrang itu, mengaku terharu sebab semula tak pernah terbersit di benaknya, suatu saat ia memimpin Golkar Pinrang. Ia semata ikhlas mengabdi selaku kader. Tapi ia tak sadar, pengabdiannya dinilai Usman sebentuk karya, membuatnya layak menerima amanah. Melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan.
Menutup seluruh rangkai acara Musda XI Golkar Pinrang, saya tampil betpidato mewakili Ketua Golkar Sulsel. Entah, saya pun tak kuasa menahan haru. Dan lagi, sekali lagi, Akbar Polo membawa tisu ke podium. Alhasil, di hadapan saya, tergeletak tiga bungkus tisu. Hi hi hi…
───
Saya terharu, teringat cerita putri tunggal saya. Dua bulan lalu, kala KKN di Parepare, cara bergiliran sekian teman datang menjenguknya di posko. Satu paling berkesan, ketika Ketua DPRD Parepare, juga Usman Marham, masuk ke lorong tempat posko KKN putri saya berada. Keduanya berkendara mobil mewah.
“Ayah…” ujar putri saya. “Tadi Om Kahar (Ketua DPRD Parepare) sama Om Usman datang ke posko KKN saya. Masyarakat di lorong keluar rumah karena kaget.”
“Tentu mi, Nak. Keduanya orang hebat, pakai mobil mewah lagi. Apalagi, salah satunya Ketua DPRD,” jelas saya.
“Ayah, Kenapakah keduanya datang ke posko?”
“Itu artinya, ayahmu orang baik, Nak. Kalau ayahmu jelek, pasti mereka tak mau menjengukmu di posko.”
“Oohw….”
Di balik gawai, terdengar isak haru putri saya.
Maka benarlah apa adagium dikata filsuf Henry David Thoreau, sebagaimana saya kutip di awal catatan ini:
“Kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tak pernah merugi”
Nah, appako. Masih mauko ? Hi hi hi
Pinrang, 03 November 2026
Catatan kaki:
Jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan waktu akan membawa kita pergi. Namun, kebaikan dan karya yang kita tinggalkan akan terus hidup selamanya dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakannya.
Penulis:
Armin Mustamin Toputiri, Fungsionaris Golkar Sulsel.













