Mengapa Skor TKA Menggunakan Skala 200–800? Ini Penjelasan Kemendikdasmen

Bagikan

JAKARTA, LINISIAR.ID — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelaskan bahwa penggunaan skala skor 200–800 pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat bertujuan menyajikan hasil pengukuran kemampuan akademik murid secara lebih informatif.

Skala ini bukan persentase jawaban benar, melainkan bentuk pelaporan hasil asesmen yang mempertimbangkan karakteristik soal. Hasil TKA diharapkan dapat membantu murid memahami capaian akademiknya, sekolah meningkatkan kualitas pembelajaran, serta perguruan tinggi memperoleh informasi pendukung sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, menjelaskan bahwa pengukuran kemampuan akademik perlu mempertimbangkan karakteristik soal.

Dalam tes yang terdiri atas sepuluh soal berbobot sama, delapan jawaban benar menghasilkan nilai 80. Namun, jika dua murid mengerjakan paket soal dengan tingkat kesulitan berbeda, jumlah jawaban benar yang sama belum tentu menggambarkan kemampuan yang sebanding.

Untuk itu, TKA menggunakan pendekatan teori respons butir (Item Response Theory/IRT). Dalam model dua parameter, pengolahan jawaban mempertimbangkan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal untuk memperkirakan kemampuan akademik murid. Hasil pengukuran tersebut kemudian disajikan dalam rentang skor 200–800.

Penting dipahami bahwa metode pengukuran dan skala pelaporan merupakan dua hal berbeda. Metode pengukuran berkaitan dengan cara memperkirakan kemampuan, sedangkan skala pelaporan menentukan bagaimana hasilnya ditampilkan.

Skor 600, misalnya, tidak berarti peserta menjawab benar 60 persen soal. Perubahan skala juga tidak berarti soal menjadi lebih sulit atau kemampuan murid meningkat. Oleh karena itu, skor baru tidak dapat langsung dikonversi ke skala lama melalui pembagian atau perkalian sederhana.

Penyetaraan antartahun dilakukan melalui estimasi kemampuan peserta menggunakan IRT dua parameter untuk memudahkan keterbandingan hasil. Meski demikian, selisih skor yang kecil perlu dimaknai secara hati-hati dengan mempertimbangkan galat pengukuran.

Di satuan pendidikan, hasil TKA dapat digunakan bersama penilaian kelas dan pekerjaan murid untuk menentukan kebutuhan pendampingan belajar. Orang tua juga dapat memanfaatkannya untuk memahami kesulitan anak dan memberikan dukungan yang diperlukan.

Bagi perguruan tinggi, TKA menyediakan informasi capaian akademik melalui asesmen terstandar yang dapat melengkapi nilai rapor dalam seleksi jalur prestasi sesuai ketentuan yang berlaku. Kedua informasi tersebut dapat dibaca bersama untuk menghasilkan pertimbangan akademik yang lebih utuh.

Hasil TKA juga berpotensi menjadi dasar perancangan program persiapan atau pendampingan akademik bagi mahasiswa baru. Pemanfaatannya perlu dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan perkembangan belajar mahasiswa.

Pembaruan skala pelaporan perlu disertai upaya menjaga mutu soal, keamanan pelaksanaan, aksesibilitas, dan kejelasan informasi hasil. Dengan pemahaman yang tepat serta kerja sama sekolah, keluarga, dan perguruan tinggi, skor TKA diharapkan dapat dimanfaatkan secara bermakna untuk membaca capaian murid dan memperbaiki pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *