Anak Muda Menjawab : Antara Cita-Cita dan Realita

Bagikan

Linisiar.id – Banyak anak muda kini dirundung pilu. Bingung, untuk meneruskan hidup dengan meraih cita-cita sesuai passion, atau harus bekerja meski tidak sesuai passion.

Tidak banyak orang akan memikirkan tentang cita-cita apa yang paling ideal untuk dikerjakan. Kecenderungan manusia—jika disuruh memilih—akan mengerjakan sesuatu bila itu menjadi gairah buat diri mereka. Namun, realita hidup seringkali membuat seseorang untuk merasionalisasikan keadaan. Alhasil bekerja tidak sesuai passion, akan menjadi pilihan.

Berikut ini, jawaban yang diperoleh Linisiar.id dari lima anak muda, dengan profesi yang mereka kerjakan saat ini, namun tidak sesuai dengan apa yang menjadi cita-cita mereka sejak kecil:

Muhammad Harum
Cita-cita terdahulu : Polisi
Cita-cita sekarang : Pengusaha
Profesi saat ini : Ojek Online

“Dari TK sampai SD kelas 6, saya mau sekali jadi Polisi. Ini karena, saya ikut-ikutan saja sama teman, Haha. Di Kampungku [Kabupaten Wajo, Kecamatan Belawa] saya dan teman-teman kecil mau semua jadi Polisi. Padahal, waktu SMA [Awal mula, saya berhenti bercita-cita menjadi polisi], saya melihat beberapa Polisi yang menyalahgunakan profesinya. Seperti begini : ada salah satu keluarga polisi yang ditilang, tapi pas ditau dia [orang yang ditilang] adalah keluarga Polisi, pasti tidak jadi ditilang. Huuh semoga tidak ada lagi begini, deh. Sekarang, untuk sementara, profesi saya adalah Ojek Online. Saya memilih Ojek Online karena bisa dikerjakan sambil saya kuliah, juga cukup untuk membiayai kuliah saya. Mulai dari sekarang, saya bercita-cita menjadi Pengusaha. Doakan!”

 

Muhammad Mifta
Cita-cita terdahulu : Pemain Bola
Cita-cita sekarang : Desainer Grafis
Profesi saat ini : Desainer Grafis

Di Papua, tempat saya dibesarkan, hampir semua orang bercita-cita seperti Boaz Solossa (Pemain Bola). Saya juga begitu. Salah satu alasan kenapa saya ingin seperti Boaz Solossa, selain karena suka main bola, Boaz Solossa, bagi saya, telah berhasil mengangkat nama Papua. Saya bermain bola, sejak SD, dan berhasil mendapat berbagai prestasi. Tapi, saat SMA saya dilarang oleh keluarga, untuk bermain bola. Saya kecewa sekali. Saat ini, profesi saya sebagai Desainer Grafis. Awalnya, saya rumit untuk menyukai Desainer Grafis. Seiring berjalannya waktu saya sadar, menjadi Desainer Grafis adalah wadah kreatifitas saya. Menyenangkan. Sekarang saya tidak pernah lagi merindukan untuk bermain bola. Kasarnya, saya sudah menghapus cita-cita pemain bola dalam benak saya.”

 

Satria Dwi Putra
Cita-cita terdahulu : Pilot
Cita-cita sekarang : Chef
Profesi saat ini : –

Waktu TK, saya senang mengatakan saya mau jadi pilot. Meskipun saya tidak tahu bagaimana dan seperti apa yang dilakukan pilot. Saya hanya tahu, pilot yang menerbangkan pesawat. Sekarang tidak lagi. Saya tidak punya alasan, kenapa saya sudah tidak ingin lagi menjadi pilot. Nah, sejak SMP, saya merubah cita-cita, menjadi Chef. Saya suka sekali memasak. Biasanya, setelah memasak, saya seperti mendapatkan kesenangan tersendiri. Itu bagai kenikmatan yang tak ternilai. Kalau semisal saya tidak berhasil meraih cita-cita menjadi Chef, semoga saya bisa menjadi orang kantoran.”

 

Yudianto Tallulembang
Cita-cita terdahulu : Polisi
Cita-cita sekarang : Pengusaha
Profesi saat ini : Management Traine (MT) Perusahaan­­­

“Buru Sergap (Buser). Haha. Dulu itu, saya tidak tahu apa namanya. Jelasnya, saya cuma suka perannya, dalam menangkap pelaku kriminal. Hingga pada akhirnya saya tidak punya kesempatan untuk mendaftar jadi Buser di Kepolisian, saya putuskan untuk lanjut kuliah saja. Sekarang, saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang smelter. Ini jelas jauh berbeda dengan apa yang saya harapkan sewaktu kecil. Saya butuh waktu satu tahun untuk bisa nyaman bekerja dengan profesi yang sekarang ini. Setelahnya, saya baru bisa merasakan kenyamanan bekerja di sini, itu karena upah yang saya terima di sini, boleh dikata lebih dari cukup. Kalau sekarang, jika ditanya, apa cita-cita saya? Saya jawab, mau jadi pengusaha. Kumpul uang dulu, yah…”

 

Agus Mawan
Cita-cita terdahulu : –
Cita-cita sekarang : Jurnalis Lingkungan
Profesi saat ini : Jurnalis Lingkungan

“Sejak kecil, saya tidak pernah memiliki cita-cita, hanya punya banyak mimpi. Namun, tragedi ‘penghancuran gunung’ untuk bahan baku semen, di tempat Almarhum Bapak saya bekerja, mengantarkan saya untuk untuk mengambil jurusan Teknik Mesin di Kampus. Betul, saya pernah berkeinginan untuk menjadi bagian dari ‘penghancur gunug’. Untungnya, saya segera sadar, bahwa menghancurkan gunung, sama saja menghancurkan kehidupan yang telah terbentuk, sejak jaman sebelum peradaban spesies manusia berjalan, dan mengubah wajah bumi ini. Saya benar-benar meninggalkan keinginan untuk menjadi bagian dari ‘penghancur gunug’ saat masuk semester lima. Saya memilih profesi yang tak pernah terlintas di benak saya. Saya memilih menjadi Jurnalis di salah satu media lokal Sulselekspress selama satu tahun. Kemudian bekerja di Kantor berita Mongabay sebagai kontributor dengan fokus tulisan isu konservasi dan sains lingkungan. Selama belajar menjadi Jurnalis, saya punya pakem Jurnalisme, yaitu menjadi pengeras suara bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan bersuara. Pakem ini mengajarkan saya, bagaimana pun resikonya, saya harus dan akan terus menulis tentang mereka yang tidak punya kesempatan untuk bersuara. Ada yang mengatakan, kalau saya mendagangkan air mata mereka [narasumber dalam tulisan-tulisan saya]?  Tentu tidak. Saya sama dengan mereka. Juga orang yang kalah dan akan selalu begitu.”

***

Kelima jawaban di atas, mengajarkan, bahwa, banyak atau sedikitnya, kejadian-kejadian yang dialami dalam kehidupan ini, akan memberi jawaban baru, tentang bagaimana merajut asa demi sebuah cita-cita, dan tentang bagaimana upaya memperbaiki keadaan dengan mencoba pekerjaan-pekerjaan meski tidak sesuai passion. Ketahuilah, bekerja tidak sesuai passion, bukan akhir dari segalanya. Mencoba terus belajar, akan membuka pikiran-pikiran, bahwa kehidupan ini, bukan untuk disesali. Melainkan untuk dijalani sebaik-baiknya.

Penulis: Efrat Syafaat Siregar
Gambar Utama: Photo by Randy Tarampi on Unsplash

 

 

```

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *