JAKARTA, LINISIAR.ID – Muhammad Rijal, murid SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu dari 16 murid yang mewakili Indonesia di ajang internasional Young Inventors Challenge (YIC) 2026.
Bersama rekannya, Salwa Salsabila Az, Rijal membawa AGRITEVO, inkubator pembibitan padi berbasis Internet of Things (IoT) yang ditenagai energi surya.
Keduanya tergabung dalam Tim AGRITEVO, satu dari delapan tim delegasi Indonesia yang dikirim Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Pengembangan Prestasi dan Karakter (Puspreska).
Seluruh delegasi merupakan murid jenjang pendidikan menengah.
Rijal menjelaskan, penelitiannya dirancang untuk membantu petani.
“Penelitian kami mengembangkan inkubator untuk menyemai kecambah benih padi. Tujuannya untuk meminimalisir kegagalan para petani dalam tahap penyemaian benih padi,” ujarnya.
Perangkat tersebut dibangun dengan panel surya, ESP32, sensor kelembaban tanah, dan sensor suhu.
Tim AGRITEVO mengajukan penelitian berjudul AGRITEVO: Internet of Things (IoT)-Based Rice Seedling Incubator Powered by Solar Energy.
Pengumuman pemenang YIC dijadwalkan pada November 2026 melalui kanal YouTube penyelenggara.
Rangkaian YIC 2026 berlangsung pada 12–19 Oktober 2026 di Jakarta. Presentasi dan wawancara utama secara daring (online viva session) digelar pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Para murid membawa gagasan di bidang teknologi, kesehatan, lingkungan, pertanian, dan solusi bagi masyarakat.
Koordinator Pembina YIC 2026, Abu Amar dari Institut Teknologi Indonesia (ITI), mengapresiasi kerja keras para murid selama pembinaan hingga lolos ke tahap 32 besar.
“Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin. Mudah-mudahan saat pengumuman pemenang pada bulan November mendatang mendapatkan hasil terbaik,” ujarnya.
Kepala Puspreska, Rusprita Putri Utami, menyebut pengembangan talenta murid perlu dilakukan berkelanjutan agar setiap murid dapat tumbuh sesuai potensinya.
“Semoga adik-adik meraih prestasi yang membanggakan di ajang Young Inventors Challenge,” katanya.
Perjalanan menuju YIC 2026 bermula dari Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025. Sebanyak 12 tim pemenang OPSI, terdiri atas 24 murid, mengikuti pra pembinaan pada 2–6 Maret 2026 di Jakarta.
Mereka mempresentasikan hasil penelitian, menyempurnakan proposal, memperkuat visualisasi produk, dan didampingi pembina serta alumni YIC. Setelah pembinaan tahap I dan II, delapan tim lolos sebagai 32 besar finalis.
Selain AGRITEVO, tujuh tim lain membawa inovasi yang beragam:
1. PORTIS (SMAN 1 Sumenep): drone pemantau penangkapan ikan ilegal berbasis *computer vision* YOLO.
2. Tirto’s User (SMAN 2 Ponorogo): sistem irigasi sawah otomatis berbasis kecerdasan artifisial.
3. ChemisTwin (SMA Nasional KPS, Kalimantan Timur): pelapis superhidrofobik ramah lingkungan untuk melindungi baja.
4. SCAB (SMAN 6 Yogyakarta): perangkat pemandu cerdas dan pemberitahuan darurat bagi penyandang tunanetra.
5. AKU DAH LUPA (MAN 2 Kota Malang): sistem web pendeteksi Alzheimer melalui citra MRI.
6. SYFORCE (MAN Insan Cendekia Pekalongan): perangkat pakai pengukur kelengkungan tulang belakang untuk mendeteksi skoliosis.
7. DewaCerva (SMAN 8 Jakarta): nanopartikel dari ekstrak daun dewandaru untuk penelitian terapi kanker serviks.
Keikutsertaan delegasi ini bagian dari implementasi Manajemen Talenta Murid, yang meliputi identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, dan pemanfaatan talenta.
Pengalaman kompetisi internasional diharapkan memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan keterampilan menyampaikan gagasan ilmiah.
YIC merupakan ajang penelitian internasional yang diselenggarakan Association of Science, Technology, and Innovation (ASTI) untuk mendorong kolaborasi murid sekolah menengah menghasilkan solusi inovatif, termasuk yang relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).













