Palopo, Linisiar.id – Pengurus Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri Komisariat Institut Agama Islam Negri (IAIN) Kota Palopo menggelar dialog bincang buku, Senin (12/4/2021).
Dialog kali ini berbincang tentang buku yang berjudul, Kartini Tanah Luwu “Hj. St. Ziarah Makkajareng” oleh sahabatwati Hasrah dengan menggunakan on google meet
Sahabatwati Hasrah dalam paparanya mengemukan buku yang berjudul Kartini Tanah Luwu “Hj. St. Ziarah Makkajareng” ditulis oleh Dr. Hj. Ria Wardah Mappile, M.Ag.
“Di dalam buku ini membahas tentang sosok perempuan yang bernama Hj Siti Ziarah Makkajareng yang merupakan sosok perempuan yang menjadi sarjana pertama di tana Luwu, dimana beliau memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam hal pendidikan di tana Luwu,” paparnya
Beliau, kata Hasrah juga merupakan satu-satunya representasi suara perempuan dari beberapa pendiri pesantren modern datok Sulaiman Palopo, dia juga merintis berdirinya perguruan tinggi pertama di tanah Luwu (IAIN Palopo sekarang)
Lebih jauh, keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Islam di tanah tersebut tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan seorang tokoh pendidikan perempuan pelopor pendidikan yang fenomenal, bersahaja, tulus, penuh dedikasi yaitu St. Ziarah Makkajareng
Dialog bincang buku itu juga membahas salah satu perempuan yaitu bernama Tiara.
Tiara adalah sarjana wanita pertama di tanah Luwu yang berasal dari keluarga bangsawan tanah tetapi tidak membanggakan kebangsawanan itu dan juga syara adalah orang yang memiliki kesadaran akan eksistensi dirinya sebagai seorang cendekiawan yang, yang kesadaran itu mengharuskan dirinya untuk melakukan sesuatu pembebasan untuk kepentingan masyarakat.
Dia bahkan mengajarkan dan menawarkan eksistensi diri yang membawa tiga misi pembebasan yaitu:
Pertama, membebaskan masyarakat dari kesesatan paham dualisme atau polytheisme menuju paham monoteisme atau tauhid.
Kedua membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kebodohan, itu dilakukan ziarah dengan mendirikan dan mengembangkan berbagai lembaga pendidikan lembaga pendidikan non muslim.
Ketiga membebaskan manusia dari kemiskinan dan penindasan dengan memperbaiki tingkat pendidikannya,” tutup kesimpulan Sahabatwati Hasrah. (Ayub)













