MAKASSAR, Linisiar.id – Pasangan calon Wali Kota-Wakil Wali Kota Makassar Ramdhan ‘Danny’ Pomanto-Fatmawati Rusdi diunggulkan lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC). Dengan selisih di atas 20 persen dari kandidat lain, Danny-Fatma berada di atas angin jelang pelaksanaan Pilwalkot Makassar 9 Desember mendatang.
Dalam rilis survei elektabilitas kandidat Calon Wali Kota Makassar, di Hotel Aryaduta, Makassar, Rabu (21/10/2020), Paslon Danny-Fatma memiliki elektabilitas 41,9 persen, lebih unggul dari ketiga paslon lainnya: Munafri Arifuddin-Rahman Bando (17,8 persen), Syamsu Rizal-Fadli Ananda (16,6 persen), dan Irman Yasin Limpo-Zunnun Nurdin Halid (6,8 persen). Sementara yang belum menentukan sikap sekitar 16,9 persen.
Menurut Direktur Riset SMRC Deni Irvani dalam rilis daring, mengatakan peluang Danny-Fatma memiliki peluang paling besar dibandingkan tiga paslon lainnya.
“Meski sudah unggul, tim Danny-Fatma tidak boleh lengah atau melemah, bisa berbahaya nanti, harus melakukan treatment yang lebih lagi kuat lagi,” ujar Deni.
Deni menambahkan, dalam survei yang dilakukan pada 21-25 September lalu ini pada 410 sampel dengan tingkat kepercayaan 95 persen, Danny paling populer dengan persentase 89 persen, Syamsu Rizal 83 persen, Munafri 81 persen, dan Irman 72 persen.
“Kuantitas dan kualitas popularitas yang lebih tinggi menjelaskan mengapa elektabilitas Danny sementara lebih tinggi dibanding calon lain,” tambah Deni.
Deni juga menegaskan masih banyak warga yang baru akan menentukan sikap jelang hari pencoblosan, dengan persentase sekitar 49 persen.
“Dukungan warga kepada masing-masing calon masih bisa berubah, bergantung pada seberapa efektif dan positif kerja sosialisasi
yang dilakukan masing-masing calon sampai Pilkada diadakan,” pungkas Deni.
Menurut Deni, meski peluang Danny Pomanto besar, dengan elektabilitas tinggi, treatmen kampanye ke depan tetap menjadi penentu pemilih. Karena dari hasil survei, masih ada 49 persen yang bisa saja mengubah pilihan.”Mereka ini masih lihat-lihat. Hampir 50 persen yang ada dalam survei itu masih bisa berubah, tergantung efektif tidaknya mereka semua melakukan sosialisasi atau kampanye,” lanjut Deni.
Melihat hasil survei itu, Pengamat Politik Universitas Hasanuddin, Andi Ali Armunanto mengatakan, jika hasil survei yang dikeluarkan SMRC, tidak jauh berbeda dengan hasil survei lembaga lain.
“Yang paling menentukan pada survei adalah metodologi yang digunakan,” katanya.
Ali menyebutkan, hasil survei yang menyebutkan banyaknya yang masih bisa berubah.
“Mereka yang kemungkinan berubah itu biasanya mereka yang masih mudah dan selalu masih melihat-lihat,” tutup Ali.












