Berita  

Pertama Digelar di Papua, Kongres Bahasa Daerah 2026 Perkuat Pelestarian Bahasa

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti bersama jajaran pejabat dan tokoh Papua menghadiri pembukaan Kongres Bahasa Daerah 2026 di Jayapura, Papua, Senin (19/10/2026). Kegiatan ini mendorong penguatan pelindungan dan pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti bersama jajaran pejabat dan tokoh Papua menghadiri pembukaan Kongres Bahasa Daerah 2026 di Jayapura, Papua, Senin (19/10/2026). Kegiatan ini mendorong penguatan pelindungan dan pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa.
Bagikan

JAYAPURA, LINISIAR.ID – Kongres Bahasa Daerah 2026 berlangsung di Jayapura, Papua, pada 19–22 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi penyelenggaraan pertama di Papua. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti membuka kongres pada Senin (19/10/2026).

Kongres ini mendorong penguatan pelindungan dan pelestarian bahasa daerah. Abdul Mu’ti menekankan pentingnya kebijakan berbasis data. Ia juga mendorong kerja sama pemerintah pusat dan daerah serta keterlibatan masyarakat.

Kongres Bahasa Daerah 2026 mengusung tema “Perencanaan dan Implementasi Kebijakan Bahasa Daerah untuk Penguatan Jati Diri Bangsa”. Tema ini menegaskan peran bahasa daerah dalam menjaga identitas dan warisan budaya bangsa.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa daerah menyimpan sejarah, pengetahuan, identitas, dan kearifan masyarakat. Pelestarian bahasa juga membantu menjaga ingatan kolektif dan nilai kehidupan bagi generasi mendatang.

Slogan kongres tahun ini adalah “Pusaka Bahasa”. Menurut Abdul Mu’ti, slogan tersebut menggambarkan bahasa daerah sebagai rekaman sejarah, filosofi, mitos, tradisi, dan kearifan lokal. Sementara itu, “Pusaka Bangsa” menegaskan peran bahasa daerah dalam membentuk identitas nasional di tengah keberagaman suku dan budaya.

“Bahasa daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan nasional yang tercantum pada amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Keberagaman bahasa, suku, dan budaya menjadi modal sosial sekaligus modal budaya yang memperkuat persatuan dan memperkaya kehidupan bangsa Indonesia,” ungkap Abdul Mu’ti.

Indonesia Memiliki 718 Bahasa Daerah, 427 di Papua

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat Indonesia memiliki 718 bahasa daerah hingga 2019. Sebanyak 427 bahasa di antaranya berada di wilayah Pulau Papua.

Data tersebut menunjukkan kekayaan bahasa daerah Indonesia, khususnya di Papua. Kondisi ini juga menuntut komitmen bersama untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah.

Abdul Mu’ti menyoroti tiga langkah utama dalam pelindungan bahasa daerah.

Pertama, pemerintah perlu menyusun kebijakan berdasarkan data dan kebutuhan masyarakat. Kedua, pemerintah pusat dan daerah harus memperkuat koordinasi. Keduanya juga perlu menjalankan program secara terpadu dan berkelanjutan.

Ketiga, seluruh pihak perlu memperkuat ekosistem penutur bahasa daerah. Keluarga, sekolah, komunitas, tokoh adat, akademisi, media, dunia usaha, dan generasi muda harus mengambil peran aktif.

Kemendikdasmen melalui Badan Bahasa juga mengampanyekan Trigatra Bangun Bahasa. Slogan ini memuat tiga prinsip: utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa masyarakat perlu menjalankan ketiga prinsip tersebut secara seimbang. Dengan begitu, masyarakat dapat memperkuat bahasa Indonesia sekaligus menjaga bahasa daerah dan menguasai bahasa asing.

Pemprov Papua Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah

Wakil Gubernur Papua, Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, menegaskan dukungan pemerintah provinsi terhadap pelindungan dan pelestarian bahasa daerah.

Aryoko menyebut kekayaan bahasa di Papua sebagai anugerah sekaligus tanggung jawab besar. Pemerintah dan masyarakat perlu memastikan bahasa daerah tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui kongres ini, kami berharap akan lahir langkah-langkah strategis dan konkret untuk memperkuat pelindungan bahasa daerah. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan koordinasi, menyusun program pelestarian yang berkelanjutan, serta mendorong penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga, pendidikan, kegiatan adat, dan ruang publik sesuai konteksnya,” tutur Aryoko.

Ia menilai upaya tersebut sejalan dengan visi pembangunan Papua yang cerdas, sejahtera, dan harmonis. Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat juga perlu memahami dan menjaga akar budayanya.

Aryoko berharap generasi muda Papua mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan jati diri. Ia juga mendorong generasi muda agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

“Penguasaan bahasa asing dan kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap bahasa ibu, penghormatan terhadap adat, dan penghargaan terhadap kebudayaan daerah,” terangnya.

Kongres Bahasa Daerah 2026 Libatkan 200 Peserta

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menjelaskan bahwa kongres ini merupakan hasil kolaborasi Badan Bahasa Kemendikdasmen dengan Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Provinsi Papua Barat, dan Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP).

Panitia memilih Papua karena wilayah ini memiliki keragaman bahasa daerah yang sangat tinggi. Kongres berlangsung pada 19–22 Oktober 2026 di Jayapura dengan melibatkan 200 peserta.

Peserta berasal dari berbagai unsur. Mereka meliputi pemerintah pusat dan daerah, pengambil kebijakan, akademisi, peneliti bahasa, pendidik, budayawan, sastrawan, tokoh adat, komunitas bahasa, BP3OKP, dan generasi muda.

Hafidz berharap kongres ini menghasilkan rekomendasi kebijakan bahasa daerah yang konkret. Rekomendasi tersebut diharapkan memuat arah strategis, prioritas program, dan langkah implementasi di tingkat pusat maupun daerah.

Kongres ini juga mendorong penguatan komitmen antarpemangku kepentingan. Para peserta diharapkan mengidentifikasi praktik baik, merumuskan tindak lanjut yang terukur, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya bahasa daerah.

Melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat, pelestarian bahasa daerah diharapkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Keluarga, sekolah, komunitas, dan ruang publik memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *