Komunitas Dakwah Kaffah Cari Jejak Dakwah di Pinus Lembanna

GOWA, Linisiar.id — Hujan deras tak jua redah. Sound sistem telah tertata rapih. Ransel-ransel telah tersusun di bagasi mobil. Hal ini tak mengurangi semangat langkah kaki menuju Desa Lembanna Kecamatan Tinggimoncong, Gowa.

Belasan anggota Komunitas Dakwah Kaffah (DK) gelar hijrah adventure di Desa Lembanna, Sabtu, 21 November 2020.

Tiba di waktu magrib. Anggota komunitas ini shalat berjamaah, berbaur warga setempat. Di lokasi wisata ini, terlihat ratusan pendaki tampak lalu lalang. Semuanya terlihat menggendong ransel. Lembanna merupakan jalur menuju puncak Gunung Bawakaraeng.

Bersama Ustaz Muis Karim, komunitas DK mulai menggali jejak dakwah di Lembanna.

Rupanya, di Hutan Pinus Lembanna, beragam komunitas turut beraktivitas. Komunitas bahasa arab juga terlihat.

Di Hutan Pinus Lembanna, Ustaz Muis Karim mulai menyinggung korelasi antara Ngopi (minum kopi) dan Cinta. Baru saja memulai kalimat itu, riuh suara ahwat ikut terdengar dibalik tenda-tenda.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini kita bahas Ngopi dan Cinta. Darimana masuknya ini. Kopi dan cinta,” kalimat nyeleneh Ustaz Muis.

Pertama, Ustaz Muis menjelaskan perkara cinta. Dikatakannya, Agama Islam adalah agama cinta. Sebab, agama Islam ajarannya sampai ke hati. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling mencintai ummatnya.

“Setiap orang akan dibangkitkan bersama dengan orang dicintainya. Siapa itu? Keluarga. Teman,” kata Ustaz Muis.

Kata pembina DK ini menjelaskan, ada nikmat dalam setiap kumpul-kumpul. Kumpul bareng keluarga, kerabat ataupun teman-teman.

“Di neraka gak ada acara kumpul-kumpul. Semua jenis nikmat diharamkan di neraka, termasuk nikmat kumpul-kumpul. Jarak satu punggung dengan punggung penghuni neraka lainnya sejauh jarak 3 hari menunggang kuda cepat. Jauh banget, gak bakalan bisa kumpul,” ungkapnya.

Dia menuturkan, kumpul-kumpul itu ajaran Islam. Ngumpul-ngumpul terus ada makanan beratnya disebut walimah. Ngumpul-ngumpul tanpa makanan disebut majelis. Majelis Qahwah (kopi) misalnya.

Dalam ibadah, sehari umat islam ngumpul 5 kali sholat berjamaah. Sepekan ngumpul sekali untuk sholat jum’at. Setahun ngumpul dua kali untuk idul fitri dan idul adha. Seumur hidup diharapkan ngumpul satu kali di Arafah untuk wukuf ibadah haji.

“Begitulah Islam syariatkan untuk kumpul-kumpul. Kumpul-kumpul itu warna surgawi. Di surga penghuninya selalu ngumpul-ngumpul. Mereka berhadap-hadapan diatas dipan-dipan surga. Saat ini seluruh bentuk kumpul-kumpul umat islam dicurigai. Kumpul-kumpulnya disebut kerumunan biar kena sangsi protap Covid19. Sementara kumpul-kumpul kampanye pilkada dilindungi UU. Subhanallah,” ungkapnya.

“Siapapun yang menghendaki tinggal pusat surga (hubuhatul jannah) kelak, hendaklah suka kumpul (berjamaah)”. (*)