Metro  

Mereka yang Mesti Bekerja Dibalik Kekhawatiran Penyebaran Covid-19

Gambar; Muhammad Mifta
Bagikan

MAKASSAR, Linisiar.id – Sejak tanggal (15/03/2020), Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo mengimbau masyarakat agar tetap tinggal di dalam rumah. Hal ini disebabkan, melonjaknya jumlah pasien yang terdampak COVID-19 atau virus corona.

Menindak lanjuti imbauan Presiden, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) juga ikut menyampaikan tujuh poin imbauan. Salah satu diantaranya, senada dengan imbauan Presiden Jokowi.

“Menghindari tempat keramaian atau berkumpulnya orang banyak, menjaga jarak minimal tiga meter ketika beraktivitas di luar rumah, dan sebisa mungkin melaksanakan pekerjaan dari rumah,” bunyi poin pertama dalam surat edaran Gubernur Sulsel, dengan nomor 440/1972/B.um.UM.2020, yang dikeluarkan pada Senin (16/3/2020).

Beberapa orang Sulsel, khususnya di Makassar—dengan segala kesiapan yang dimiliki dalam rumah-masih bisa menuruti imbauan: ‘Melaksanakan pekerjaan dari rumah’. Namun, bagi mereka [para pekerja] yang menggantungkan nasib dan harapan pada upah atau pendapatan yang diperoleh perhari, merasa, imbauan tersebut malah berdampak pada dua kemungkinan. Yakni: Pendapatan menurun, dan kekhawatiran akan virus corona karena terus-terusan bekerja di luar rumah.

Adalah Enno Gitara (26) pengemudi ojek online (ojol) salah satu yang merasakan dampak ‘buruk’ karena imbauan tersebut. Dia mengaku, sejak berlakunya imbauan tersebut ekonomi keluarganya mengalami penurunan secara drastis.

“Pendapatan sangat turun drastis. Imbauan tersebut, tidak jelas, karena kita ini bingung mau kerja bagaimana dalam rumah, nah kita ini pekerja lapangan. Serba salah juga kami rasa untuk para Ojol, karena kalau diam di rumah istri tidak makan. Diam di jalan nyawa juga terancam,” ujarnya kepada Linisiar.id Senin (23/3/2020).

Hal yang senada juga diungkapkan salah satu teman Enno Gitara. Dia bilang, salah satu penyebab berkurangnya pengorder penumpang dan makanan, itu karena imbauan tersebut.

“Saya tidak setuju dengan adanya imbauan tersebut. Dua minggu mi ini berlalu sepi orderan food dan penumpang. Khawatir tong jki iyah, tapi kalo nda keluar ki, nda makan,” keluh Rival.

Sementara itu, salah seorang pedagang bakso gerobak, Iskandar (36) mengaku, akibat dari imbauan tersebut, juga berimbas pada pendapatan yang diperolehnya. Kata dia, biasanya dalam seminggu ia mengirim uang untuk anak dan istrinya di kampung. Namun, sejak adanya imbauan tersebut, dia tidak lagi mengirim uang untuk anak istrinya di kampung.

“Dalam seminggu, saya bisa dapat ratusan hingga jutaan rupiah, itu saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari di sini [Makassar], dan untuk kebutuhan anak istri di kampung. Sejak ada ini imbauan, anak-anak libur, pegawai libur, semua orang tinggal di rumah, pembeli jadi sepi. Saya yang dulunya pulang sore, sekarang sampai jam dua belas malam keliling cari pembeli,” pungkasnya.

“Orang-orang dengan ekonomi ke atas enak ji, Mereka bisa kerja di rumah, makan dengan persiapan yang ada. Beda dengan kami [maksudnya: orang dengan ekonomi ke bawah],” sambungnya.

Kekhawatiran akan imbauan “melaksanakan pekerjaan dari rumah” prediksi Iskandar, nantinya juga akan berdampak pada semua kalangan. Sebab, kata dia, bila imbauan tersebut berlangsung sangat lama, orang-orang akan mencari jalan terbaik agar terus bertahan hidup.

“Semoga ini [penyebaran virus corana dan imbauan tetap di dalam rumah] bisa diselesaikan dengan cepat sama pemerintah. Kalau ini berlangsung lama, liat mi nanti, pasti akan banyak pencuri, karena mereka kehilangan pekerjaan dan butuh penghasilan supaya bisa tetap hidup,” pungkasnya.

Reporter: Efrat Syafaat Siregar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *