Berita  

Kualitas Udara Makassar dan Maros Masuk Kategori Tidak Sehat, BMKG Jelaskan Pengaruh Asap Karhutla

Bagikan

MAKASSAR, LINISIAR.ID — Kualitas udara di wilayah Makassar dan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memburuk dalam beberapa hari terakhir.

Peningkatan konsentrasi partikulat halus (PM2,5) terpantau di stasiun pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Maros.

Berdasarkan data pemantauan yang diberitakan pada Jumat (9/10/2026), konsentrasi PM2,5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 10.45 WITA. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat berdasarkan klasifikasi BMKG.

Baca juga: Benteng Kupa Tak Terbendung, Ardiansyah-Fadil Juara Men’s Silver Padel RCC

Konsentrasi tertinggi yang dilaporkan pada hari itu mencapai 112,7 µg/m³ pada pukul 07.00 WITA.

Pada Sabtu (10/10/2026), pemantauan BMKG yang diberitakan media lokal menunjukkan konsentrasi PM2,5 di Maros sebesar 80,5 µg/m³ pada pukul 11.00 WITA. Angka tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat.

Meski menjadi indikator penting untuk wilayah sekitarnya, hasil pengukuran di Maros tidak secara otomatis menggambarkan konsentrasi PM2,5 di seluruh wilayah Kota Makassar.

Baca juga: HKTI Sulsel Didorong Perkuat Konsolidasi untuk Transformasi Pertanian

Asap Karhutla Diduga Turut Memengaruhi Kualitas Udara

Penurunan kualitas udara di Sulawesi Selatan diduga berkaitan dengan sejumlah faktor, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sumber pencemaran lokal, serta pergerakan asap yang dipengaruhi arah angin.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulawesi Selatan, Syamsul Bahri, sebelumnya menjelaskan bahwa kualitas udara di Maros sempat memburuk sejak 3 Oktober 2026 sebelum berangsur membaik hingga 6 Oktober 2026.

Dalam keterangannya kepada media pada 7 Oktober 2026, Syamsul menyebut asap kebakaran di wilayah Papua Selatan terpantau bergerak menuju Sulawesi Selatan.

Baca juga: Baca juga: Indonesia Jadi Tuan Rumah IMSO-23, Diikuti 404 Murid dari 23 Negara

Ia juga menjelaskan bahwa kebakaran di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Pangkep dan Malino, turut menjadi sumber partikel di udara.

Sementara itu, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, pada 3 Oktober 2026 menjelaskan bahwa arah angin berpengaruh terhadap kemungkinan masuknya asap karhutla dari wilayah lain.

Angin timuran berpotensi membawa asap dari arah Papua dan Maluku, sedangkan perubahan arah angin dari barat dapat memungkinkan asap dari Kalimantan mencapai Sulawesi Selatan.

BPBD Makassar Imbau Warga Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

Menanggapi memburuknya kualitas udara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi paparan polusi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, M. Fadli Tahar, menyampaikan imbauan agar masyarakat menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Fadli mengingatkan bahwa data PM2,5 yang digunakan berasal dari stasiun pemantauan di Maros. Data tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat Makassar dan sekitarnya untuk mengantisipasi dampak paparan polusi udara.

Partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparannya berpotensi menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan dan penyakit jantung.

Untuk mengurangi risiko paparan, masyarakat dianjurkan melakukan sejumlah langkah pencegahan berikut:

1. Menggunakan masker yang sesuai. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan dapat menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 untuk membantu mengurangi paparan partikel halus.

2. Membatasi aktivitas di luar ruangan. Kurangi olahraga dan aktivitas fisik berat ketika udara berasap atau kualitas udara memburuk.

3. Melindungi kelompok rentan. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita asma, gangguan pernapasan, dan penyakit jantung perlu mendapat perhatian lebih untuk mengurangi paparan polusi.

4. Menghindari sumber asap tambahan. Hindari pembakaran sampah secara terbuka dan aktivitas lain yang menghasilkan asap serta dapat memperburuk kualitas udara.

5. Memantau informasi resmi. Masyarakat diimbau mengikuti pembaruan kualitas udara melalui kanal resmi BMKG dan mengambil langkah perlindungan sesuai kondisi aktual.

Kualitas udara dapat berubah mengikuti konsentrasi partikulat, kondisi atmosfer, arah angin, serta keberadaan sumber pencemaran.

Karena itu, masyarakat perlu terus memantau perkembangan terbaru tanpa menganggap kondisi pada satu waktu akan selalu sama pada waktu berikutnya.

Segera datangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak napas berat atau keluhan kesehatan serius setelah terpapar polusi udara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *