Pengurus Cabor dan KONI Sulsel Masih Bermasalah Anggaran PON

Bagikan

MAKASSAR, LINISIAR.ID – Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024, yang akan digelar September mendatang di Aceh dan Sumatera Utara masih menyisakan persoalan anggaran bagi sejumlah cabang olahraga (Cabor) di Sulawesi Selatan. Padahal tinggal menyisakan tiga bulan sebelum penghelatan olahraga nasional itu digelar.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulsel, lalu memfasilitas pertemuan antara Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulsel dan puluhan pengurus cabor yang akan berlaga di PON mendatang. Sejumlah permasalahan diutarakan ketua dan sekretaris cabor. Khususnya terkait ketersediaan anggaran dan fasilitas para atlet.

Sekretaris Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Sulsel Sri Syahril misalnya, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel segera memperjelas pencairan anggaran PON. “Persoalan ini bukan di KONI, tapi Dispora Sulsel. Persoalan anggaran ini memang harus jelas mengingat penyelenggaraan PON tersisa empat bulan lagi,” katanya.

Terlebih lanjutnya, di pundak cabor ada target Sulsel harus masuk lima besar. “Tentu ini sangat berat kalau melihat ketersediaan anggaran,” lanjut Sri Syahril.

Meski demikian, Pertina Sulsel sudah lama mempersiapkan atletnya untuk meraih medali di PON. Pertina sudah mempersiapkan atlet mulai sebelum Pra PON hingga sekarang. “Sayangnya target tinggi yang dipasang tidak sesuai dengan akomodasi atlet. Tentu ini menjadi peringatan bagi pemerintah.
Bahwa target yang diberikan harus selaras dengan anggaran,” keluh Sri Syahril.

Sekretaris Umum Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Sulsel Bonay Syam menyuarakan hal yang sama. Dia pun menyarankan pengurangan jumlah atlet yang dikirim ke PON jika memang anggaran minim.

“Kalau memang anggaran minim kurangi saja jumlah atletnya. Kita tidak bisa berbicara target kalau anggaran terbatas. Apalagi sampai masuk lima besar,” seru Bonay, Rabu (1/5), di di The Icon Beach Lounge and Cafe, Center Point of Indonesia.

Ketua Umum KONI Sulsel Yasir Mahmud mengungkapkan, anggaran untuk operasional PON di Aceh-Sumut mencapai Rp17,5 miliar yang diharapkan cair sebelum September. “Dengan jumlah 408 atlet dari 43 cabor yang akan diberangkatkan, tentu saja angka itu sangat tidak cukup,” ungkapnya.

Dia membandingkan dengan anggaran operasional PON Papua lalu yang mencapai Rp32 miliar. Sementara atletnya hanya 238 orang. “Ini kebutuhan atlet dua kali lipat, anggaran malah turun. Padahal, PON kali ini harus dua kali penerbangan untuk ke Aceh. Artinya biaya lebih banyak,” kesal Yasir.

Dia juga berharap, Kepala Dispora Sulsel Suherman menjadi jembatan solusi dari permasalahan cabor menjelang PON Aceh-Sumatera Utara.

Kepala Dispora Sulsel Suherman lalu menjawab, tanpa memberi solusi. Untuk hibah, Suherman menyebut angka Rp17,5 miliar yang akan diberikan ke KONI Sulsel. “Memang ada keterlambatan karena persoalan adiminstrasi. Tapi, pekan ini kami akan cairkan tahap pertama Rp9,7 miliar,” jelasnya.

Dana Rp17,5 miliar itu akan dicairkan dalam tiga tahap. “Adapun kekurangan kebutuhan untuk penyelenggaraan PON yang mencapai Rp15 miliar, Dispora bersama Gubernur Sulsel sudah membuat proposal yang akan dimasukkan ke seluruh BUMN, termasuk perbankan,” terang Suherman.

Proposal-proposal yang ada, dimasukkan ke Bank Sulselbar, dan sudah menyatakan siap membantu. Lalu ada Bank Indonesia, Pertamina, Vale, CIMB Niaga, dan beberapa perusahaan di luar. (*)