Kebakaran Hutan dan Lahan di Tinggimoncong Diperkirakan 10 Hektare

GOWA, Linisiar.id –  Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Pos 2 dan Pos 3 Bawakaraeng yang berada di Lingkungan Lembanna, Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong diperkirakan telah mencapai 10 hektare (H).

Camat Tinggimoncong Andry Mauritz mengatakan, update terakhir luasan kawasan yang terbakar sekitar 10 hektare. Meski memang saat ini kondisi api sudah mulai berkurang, hanya saja tetap perlu disiap siagakan dan diantisipasi jika kondisi angin kembali kencang.

“Saat ini tim kami masih berada di lokasi dan masih terus melakukan pemadaman hingga betul-betul padam. Seluruh unsur pun telah menurunkan kekuatannya, baik masyarakat, pemerintah kecamatan maupun pihak pemerintah daerah,” katanya dikonfirmasi, Selasa (22/10).


Menurutnya, kendala di lokasi saat ini yaitu angin yang sulit kita kendalikan, sementara lokasinya adalah hutan sehingga sangat rawan sekali. Makanya hanya bisa mengantisipasi agar tidak menyebar sampai ke perkampungan warga.

“Meski kami pastikan api tidak akan merembes ke pemukiman karena lokasi kebakaran masih sangat jauh dari permukiman warga,” ujarnya.

Lanjut Andry, sementara kendala pemadaman di lokasi karena lokasinya yang sangat sulit diakses kendaraan pemadam sehingga yang dilakukan hanyalah tenaga manual. Belum lagi akses sangat terbatas.

Untuk penyebab kebakaran hutan dan lahan di wilayah ini belum bisa ditarik kesimpulan karena dari awal kebakaran diketahui dari masyarakat yang melihat titik api dari kejauhan.

“Kami sementara masih diselidiki,” ujarnya.

Sementara, Camat Parigi Muhammad Guntur mengatakan, kebakaran hutan dan lahan berada di kaki Gunung Lompo Battang, Dusun Pattiro, Desa Manimbahoi. Sumber api diperkirakan dari Kecamatan Bontolempangan dan Kabupaten Bantaeng.

“Untuk sementara api masih besar dan masih kewalahan untuk tembus ke lokasi kebakaran. Titik api pun masih sangat jauh kedalam sehingga susah untuk dijangkau,” ujarnya.

Hingga saat ini diperkirakan luasan lahan yang terbakar sudah ada ratusan hektare. Olehnya, pihaknya telah mengerahkan masyarakat, pemerintah dusun, pemerintah desa untuk menghalau api dengan cara membersihkan lokasi yang diperkirakan akan dilewati api dengan menimbun tanah serta lahan dan ranting-ranting dibersihkan.

“Akses ke lokasi cukup susah, saya jalan kaki kesana dua jam saja belum bisa sampai dan tembus. Makanya masyarakat yang hanya berbekal pompa air melakukan pemadam, mereka juga memanfaatkan irigasi yang ada disekitar lokasi kebakaran,” ujarnya.

Selain masyarakat, pihaknya juga mendapatkan bantuan dari Komunitas Tanralili sebanyak 30 orang yang ikut membantu untuk menjaga-jaga terjadinya kebakaran berkelanjutan.

“Di sana juga berdekatan dengan tempat penggembalan sapinya masyarakat, sehingga memang harus dijaga agar tidak merambah kesana,” Katanya.